Proyek Pembangunan Penggilingan Gabah Rp 529 Juta
KABUPATEN - Proyek pembangunan penggilingan gabah milik Dinas Pangan dan Perikanan Kabupaten Mojokerto senilai Rp 529 juta amburadul dan stagnan. Hingga kini paket pengerjaan yang berada di Desa Kebuntunggul, Kecamatan Gondang pun masih 40 persen.
Seperti yang terpantau di lokasi, Kamis (21/11), bangunan yang berada di pinggir jalan tersebut tampak stagnan. Meski ada para pekerja, mereka tampak bersantai seiring tidak ada yang dikerjakan lagi akibat kerap molornya bahan material yang didatangkan. ’’Kalau melihat progres pekerjaannya ini masih 40-an persen,’’ ungkap salah satu pekerja di lokasi.
Menurutnya rendahnya progres pengerjaan ini akibat banyak faktor mempengaruhi. Salah satunya, bahan material yang didatangkan kerap telat. Tak sekadar itu, kerap pergantian pemborong juga disebut-sebut menjadi penghambat pengerjaan proyek tak kunjung tuntas. Padahal, sesuai tekan kontrak batas akhir teken kontrak 17 November lalu. Meski pada akhirnya ada perpanjangan hingga 1 Desember. ’’Sering gonta-ganti pekerja, makanya tidak selesai-selesai. Ini kami pengganti yang sudah ketiga kalinya, jadi saya ini hanya melanjutkan,’’ katanya.
Sayangnya, rendahnya progres pengerjaan ini tak lantas membuat pengawasan diperketat dari dinas pangan dan perikanan ataupun dari konsultan pengawas. Sehingga para pekerja pun tak bisa menjamin pekerjaan bisa tuntas di awal Desember seiring waktu perpanjangan yang diberikan. ’’Kalau progresnya masih seperti ini, masih butuh satu bulan lebih untuk penyelesaiannya,’’ tuturnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pangan dan Perikanan Mokhamad Riduwan, mengku tak mengetahui pasti berapa progres pengerjaan paket proyek penggilingan gabah tersebut. Ia pun memilih ’’melempar handuk’’ dengan kepada PPTK yang membidangi. ’’Ngapunten, lagi nyetir luar kota, bisa ke PPTK yang membidangi,’’ ungkapnya.
Riduwan mengungkapkan, dalam surat perjanjian kontrak diberi kesempatan kepada penyedia menyelesaikan pekerjaan sampai dengan 50 hari kalender. ’’Kontraktor saat ini mengejar output yaitu terbangunnya infrastruktur pendukung pangan dalam waktu dua minggu. Dengan lembur sampai malam, sampai akhir perpanjangan sudah 100 persen,’’ tegasnya.
Kabid Ketersediaan dan Distribusi Pangan Nur Aisah menambahkan, progres pengerjaan sejauh ini sudah capai 75 persen. ’’Kurang lebih 75 persen,’’ sebutnya. Pernyatan itu berbanding terbalik dengan pengakuan para pekerja di lapangan. Kondisi itu membuktikan jika pengawasan yang dilakukan dinas terkait cukup lemah. Benar saja, saat disinggung terkait capaian dan target mingguan, Nur Aisah pilih bungkam. Konfirmasi yang dilayangkan wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto melalui WhatsApp hanya dibaca. (ori/fen)
Editor : Hendra Junaedi