Langkah Penanganan Darurat Jembatan Wonodadi yang Kembali Putus
KABUPATEN – Pemkab Mojokerto memastikan bergerak cepat dengan kembali membuat jembatan darurat di Jembatan Sumberkembar Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo, agar akses kembali bisa dilalui masyarakat. Bedanya, penanganan sementara ini dilakukan dengan memanfaatkan jembatan bailey agar lebih aman.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Mojokerto Rinaldi Rizal Sabirin mengatakan, penanganan darurat terhadap jembatan putus yang terjadi akibat dihantam derasnya aliran sungai di Desa Wonodadi pada Rabu (19/11), dipastikan segera dilakukan. Langkah ini agar akses masyarakat tidak terhambat.
’’Akan dibangun jembatan darurat dengan jembatan bailey. Jadi, tidak lagi bertumpu pada tebing sungai. Insya Allah sekarang sedang dalam perencanaan dinas PUPR untuk dikerjakan secepatnya,’’ ungkapnya, kemarin (20/11).
Sementara itu, Kabid Bina Marga Dinas PUPR Kabupaten Mojokerto Henri Surya menyatakan, penanganan darurat memang bakal kembali dilakukan terhadap jembatan yang putus akibat diterjang derasnya arus sungai. Namun, kali ini dipastikan akan lebih aman dan kuat. Tidak lagi menggunakan bronjong seperti sebelumnya. ’’Kita berencana memanfaatkan jembatan bailey agar lebih aman. Konstruksi jembatannya dari baja,’’ terangnya.
Jembatan sementara sambil menunggu penanganan permanen tersebut diketahui milik Pemprov Jatim. Sejauh ini, dinas PUPR sudah melakukan koordinasi untuk melakukan peminjaman jembatan tersebut untuk segera dieksekusi. ’’Saya masih perlu laporan pimpinan dulu, ini baru pulang dari provinsi,’’ tandasnya.
Menurutnya, putusnya jembatan darurat yang sebelunya dibangun tersebut terjadi karena memang ada peningkatan debit air seiring hujan deras yang berlangsung lama di kawasan hulu dan sekitarnya. ”Derasnya air menyebabkan terjadinya erosi. Akhirnya, fondasi jembatan darurat yang sebelumnya dibangun tidak kuat dan ambrol,” tegasnya.
Salah satu warga, Adi Dwi Purwanto, mengungkapkan, ambruknya peristiwa jembatan ini terjadi saat debit sungai meningkat drastis. Hujan yang berlangsung lama dan deras merata membuat arus air kian deras hingga terjadi erosi. ”Fondasi yang sebelumnya sudah ambrol kembali jebol, bahkan mengakibatkan jembatan putus total,” ungkapnya.
Tak sekadar konstruksi utama jembatan yang mengalami anjlok hingga ke dasar sungai, kuatnya arus air membuat fondasi yang menjadi penguat jembatan atau sayap kiri dan kanan turut ambrol. Bahkan, sayap sisi barat turut terbawa aliran sungai. ”Kalau bronjong yang timur masih ada, cuma jembatannya dari sisi barat dan timur jebol,” paparnya.
Seluruh badan jembatan sepanjang 10 meter dan lebar 3 meter yang melintang di atas Sungai Wonodari ambrol. Sejumlah material jembatan tampak berada di dasar sungai dengan kedalaman sekitar 5 meter dari permukaan jalan. ”Beberapa hari yang lalu sempat diperbaiki dan bisa dilewati kembali, baik roda dua (motor) maupun roda empat kecil (mobil), tapi sekarang sudah tidak bisa,” katanya.
Peristiwa putusnya jembatan ini langsung direspons cepat dinas terkait. Plt Kadis PUPR Kabupaten Mojokerto Anik Mutammima Kurniawati dan Kabid Bina Marga Henri Surya langsung turun ke lokasi melakukan pemantauan dan pengamanan. ”Di lokasi saat ini dilakukan penutupan akses agar tidak sampai ada warga yang mendekat,” jelas Anik. (ori/ris)
Editor : Hendra Junaedi