Dinilai Picu Truk Parkir Sembarangan di Jalan Nasional
TROWULAN - Kurang optimalnya operasional Jembatan Timbang Trowulan jadi salah satu pembahasan utama dalam forum lalu lintas dan angkutan jalan (LLAJ) Kabupaten Mojokerto. Fasilitas yang dikelola Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB) Trowulan ini belakangan dinilai memicu masalah baru belakangan ini.
Lebih dari tiga tahun terakhir jembatan timbang tidak bisa beroperasi 24 jam penuh. Pemeriksaan angkutan barang setiap hari hanya dilakukan dalam beberapa jam, baik di pagi atau sore hari. Hal ini dimanfaatkan para sopir truk yang menghindari razia dengan parkir sembarangan di tepi jalan nasional sebelum masuk timbangan.
Mengularnya angkutan parkir dinilai mengganggu aktivitas warga setempat. Bahkan, keberadaan antrean truk rawan memicu kemacetan dan kecelakaan selain banyaknya kendaraan over dimension dan over loading (ODOL) yang lolos penimbangan. ’’Kita evaluasi penyelenggaraan lalu lintas di (wilayah) Kabupaten Mojokerto agar dapat solusi dan penanganan konkret sesegera mungkin,’’ ujar Kepala Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman dan Perhubungan (DPRKP2) Kabupaten Mojokerto Bambang Purwanto dalam forum LLAJ di ruang Satya Bina Karya, Pemkab Mojokerto, Rabu (15/10).
Kasi Sarana dan Angkutan Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Jatim Fuad Nur Alam yang hadir dalam forum mengakui minimnya personel UPPKB Trowulan jadi faktor utama. Informasi yang dihimpun, personel Jembatan Timbang Trowulan sekitar 17 orang sementara yang dibutuhkan untuk beroperasi 24 jam penuh sebanyak 45 personel. ’’Memang saat ini kami terkendala jumlah personel. Solusi jangka pendeknya, kami tambah personel dan kerja sama dengan aparat (kepolisian dan dishub),’’ sebutnya.
Menurutnya, penanganan ODOL terus diatensi pemerintah pusat. Bahakan, operasional jembatan timbang diharapkan berkontribusi mencapai tujuan program zero ODOL 2027. ’’Dari kementerian sendiri punya strategi jangka panjang, dengan akan dipasangnya sistem weigh in motion (WIM) di setiap UPPKB (jembatan timbang),’’ ungkap Fuad.
Untuk diketahui, WIM merupakan sistem otomatis berbasis sensor di jalan untuk mengukur berat dan dimensi kendaraan saat melaju. Teknologi ini dinilai sebagai solusi dari minimnya jumlah personel timbangan. Meski begitu, BPTD belum bisa memastikan kapan WIM dipasang di Jembatan Timbang Trowulan. (vad/fen)
Editor : Hendra Junaedi