Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Siang Ini Mojokerto Raya Alami Fenomena Hari tanpa Bayangan

Martda Vadetya • Minggu, 12 Oktober 2025 | 15:15 WIB

SUHU MENINGKAT: Pengendara melintasi Jalan Raya Bypass Desa Kenanten, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, di bawah terik matahari, kemarin (11/10).
SUHU MENINGKAT: Pengendara melintasi Jalan Raya Bypass Desa Kenanten, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, di bawah terik matahari, kemarin (11/10).
 

BMKG Sebut Suhu Tertinggi Capai 32 Derajat Celsius

 MOJOKERTO RAYA - Wilayah Mojokerto Raya bakal mengalami fenomena hari tanpa bayangan siang ini (12/10). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan peristiwa tersebut tidak berdampak signifikan bagi aktivitas masyarakat. Akan tetapi, cuaca bakal terasa lebih panas hanya jika saat fenomena ini tarjadi dibarengi minimnya tutupan awan di langit.

 Ketua Tim Meteorologi BMKG Juanda Andrie Wijaya menuturkan, wilayah Mojokerto diprakirakan mengalami kulminasi utama atau hari tanpa bayangan sekitar pukul 11.16 WIB. ”Fenomena ini terjadi di sejumlah daerah di Jawa Timur secara bertahap, mulai dari 10 sampai 14 Oktober mendatang,” sebutnya, kemarin.

 Fenomena ini terjadi ketika matahari berada di posisi paling tinggi di langit dan tepat berada di atas kepala atau titik zenit. Sehingga, bayangan benda tegak akan tampak menghilang karena bertumpuk dengan benda itu sendiri. Meski terbilang unik, hari tanpa bayangan merupakan fenomena tahunan. Sebab, wilayah Indonesia berada di garis khatulistiwa. ”Hari tanpa bayangan ini terjadi tidak lama, hanya beberapa menit saja,” ujar Andrie.

 BMKG memastikan, peristiwa ini tidak sampai menimbulkan dampak signifikan yang dapat mengganggu atau membahayakan masyarakat. Juga, lanjut Andrie, tidak terlalu signifikan terhadap peningkatan suhu yang belakangan ini terasa lebih panas. ”Kalau tidak ada tutupan awan, cuaca lebih panas karena suhu bisa mencapai 32 derajat Celsius. Selebihnya, tidak ada dampak lain,” imbuhnya.

 Andrie menyebutkan, posisi matahari yang tepat di atas bumi Majapahit menyebabkan intensitas penyinaran yang lebih maksimal. Oleh karena itu, dia mengimbau agar masyarakat menghindari paparan sinar matahari langsung. Hal ini karena intensitas radiasi sinar matahari dan ultraviolet sedang mengalami peningkatan. ”Untuk meminimalisir dampak paparan tersebut bisa menggunakan tabir surya atau penutup tubuh lainnya,” tandasnya. (vad/ris)

 

Editor : Hendra Junaedi
#Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika #hari tanpa bayangan