Antusiasme Membeludak, Railfans dari Malang hingga Jogja
KOTA - Parade kereta api dari masa ke masa di Mojokerto menarik antusiasme masyarat dari berbagai daerah. Rangkaian kereta khusus itu memamerkan lokomotif klasik tahun 1980 hingga gerbong baru khusus petani dan pedagang.
Arsyaviano Raka, misalnya. Jauh-jauh dari Bantul, Yogyakarta, dia memilih melawat ke Mojokerto bersama lima kawannya. Siswa kelas 3 SMP itu ikut mengabadikan parade kereta penumpang yang digelar Daop 8 Surabaya pada momen HUT ke-80 KAI kemarin (28/9). Remaja tersebut sudah tiba sejak pagi. Bersama ratusan railfans, sebutan bagi penggemar kereta api, dia menyegat kereta parade di perlintasan Jalan Pahlawan, Kota Mojokerto yang lewat sekitar pukul 14.00 dari arah Sidoarjo. ”Penasaran, pengen tahu livery-livery yang dulu-dulu itu seperti apa,” kata remaja 14 tahun tersebut.
Berbekal kamera DSLR, Raka memotret aneka gerbong yang memiliki livery alias tampilan eksterior ikonik. Dia mengaku telah menjadi pecinta kereta api sejak TK. Dirinya pun rela menyisihkan uang saku demi bisa menyaksikan parade dengan rute Surabaya-Sidoarjo-Mojokerto itu. ”Momen setahun sekali, jadi nabung dulu,” ucapnya. Selain Raka, banyak railfans dari luar daerah yang turut datang, termasuk Malang.
Manajer Humas KAI Daop 8 Surabaya Luqman Arif mengatakan, rangkaian kereta parade diisi dengan 11 livery kereta penumpang dari periode 1980 sampai 2008. Menurutnya, makna livery lebih dari sekadar cat dan desain, melainkan simbol semangat zaman, wujud inovasi, dan warisan budaya visual transportasi publik.
Karena itu, dalam peringatan ulang tahun kali ini, pihaknya menghadirkan kereta ikonik dari generasi ke generasi. Antara lain, gerbong KA Argo Bromo Anggrek berwarna merah jambu yang melegenda pada masanya hingga produk terbaru berupa kereta petani dan pedagang buatan Balai Yasa Surabaya Gubeng (SUG).
Kegiatan ini pun mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk kategori parade kereta penumpang dengan livery terbanyak dari masa ke masa. Selain itu, rekor MURI juga didapat dari fashion show pakaian adat pertama di dalam kereta. ”Melalui parade livery dan fashion show pakaian adat di atas kereta, kami ingin menghadirkan pengalaman berkesan yang membangkitkan kebanggaan budaya Indonesia sekaligus mendekatkan KAI dengan pelanggan,” ujar Luqman. (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi