Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sungai Dangkal di Mojokerto Dikeruk Capai 20 Kilometer

Farisma Romawan • Senin, 8 September 2025 | 16:00 WIB

 

MENGERING: Dinas PUPR Kabupaten Mojokerto menerjunkan alat berat untuk menormalisasi waduk di Desa Temuireng, Kecamatan Dawarblandong, Agustus lalu
MENGERING: Dinas PUPR Kabupaten Mojokerto menerjunkan alat berat untuk menormalisasi waduk di Desa Temuireng, Kecamatan Dawarblandong, Agustus lalu

KABUPATEN - Normalisasi aliran sungai terus dikebut sepanjang musim kemarau tahun ini. Tak kurang dari 20 kilometer (km) sungai dangkal telah dikeruk untuk meningkatkan daya tampung air guna mencegah bencana banjir saat musim penghujan datang.

 Kabid Sumber Daya Air Dinas PUPR Kabupaten Mojokerto Rois Arif Budiman mengatakan, normalisasi tidak hanya berjalan di sungai yang dangkal. Sejumlah saluran air juga disasar untuk mengembalikan fungsinya sebagai tempat penampungan air.  ’’Selain dari perencanaan kami, ada yang diusulkan pengerukan oleh pihak desa. Kami lakukan sejak Februari lalu,’’ ungkapnya, kemarin.

 Saat ini, konsentrasi pengerukan berlangsung di beberapa desa langganan banjir. Khususnya yang dilewati Sungai Sadar. Seperti di Desa Balongmasin, Kecamatan Pungging, dan Desa Tinggarbuntut, Kecamatan Bangsal. Selain itu, pengerukan sedimen juga menyasar sajumlah waduk di utara sungai. Meliputi waduk Desa Temuireng, dan waduk Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong. ’’Untuk normalisasi sungai totalnya sudah mencapai 20 km, sedangkan waduk baru sekitar dua titik,’’ tambahnya. 

Rois menyatakan, upaya pengembalian sungai dan waduk ini tidak menutup kemungkinan ditambah. Pasalnya, beberapa desa juga mengajukan pengerukan sedimentasi agar debit air bisa tertampung, terutama saat musim hujan tiba. Sehingga bisa meminimalisir luapan air yang mengakibatkan banjir.

 Termasuk untuk saluran irigasi dalam membantu petani memaksimalkan hasil pertanian. ’’Waduk yang jadi penyimpan air untuk irigasi sawah kita kembalikan bentuknya agar berfungsi maksimal. Ini untuk mendukung ketahanan pangan,’’ pungkasnya. (far/ris)

 

Editor : Hendra Junaedi
#dpupr kabupaten mojokerto #Musim Kemarau 2025 #normalisasi aliran sungai #Sungai Dangkal #Pendangkalan #pengerukan sedimen