KABUPATEN - Angkutan umum baru rute Mojokerto-Trawas terus disempurnakan sebelum di-launching pertengahan Agustus ini. Salah satunya besaran tarif yang akan dibebankan kepada penumpang.
Berdasarkan analisa Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman dan Perhubungan (DPRKP2), tarif yang dipatok tak lebih dari Rp 25 ribu per orang. Nilai tersebut untuk melayani penumpang dengan rute penuh mulai dari Terminal Kertajaya Mojokerto-Terminal Mojosari-Taman Ghanjaran Trawas.
Kepala DPRKP2 Kabupaten Mojokerto Rachmat Suharyono mengatakan, tarif angkutan feeder ini diakuinya lebih mahal ketimbang Trans Jatim. Sebab, operasional angkutan jenis microbus ini tidak disubsidi pemerintah, melainkan dikelola oleh perusahaan otobus sebagai pihak ketiga yang ditunjuk. ’’Untuk uji coba ini memang tarifnya dipatok sebesar Rp 25 ribu dan akan dievaluasi berdsasarkan okupansi setiap bulannya,’’ ujarnya.
Meski demikian, Rachmat mengaskan tidak semua penumpang dikenakan tarif penuh. Pihaknya tetap akan memberikan penyesuaian tarif berdasarkan jarak naik dan turunnya penumpang. Saat ini, penyesuaian tersebut masih dibahas bersama pengelola sesuai klaster jarak tempuh angkutan. ’’Bisa dikenakan minimal Rp 8 ribu sebagai klaster jarak terpendek dan terakumulasi sampai klaster terjauh,’’ imbuhnya.
Jika layanan ini berjalan dengan optimal, Rachmat berharap bisa bersambung dengan layanan bus Damri rute Juanda-Pandaan. Yang mana, pemberhentiannya bisa diperluas hingga ke Terminal Trawas. Dengan begitu, semua angkutan baik lokal maupun regional bisa saling terkoneksi dalam melayani penumpang. ’’Kami dahului launching-nya. Ketika bus Damri jurusan Juanda-Pandaan diresmikan, bisa dikoneksikan. Sehingga masyarakat dari Taman Ghanjaran Trawas bisa langsung ke Juanda,’’ tandasnya.
Di Mojokerto sendiri, saat ini sudah ada empat moda transportasi umum yang beroperasi. Yakni Bus Trans Jatim Koridor II Mojokerto-Surabaya, Bus Trans Jatim Koridor III Mojokerto-Bunder (Gresik), AKDP Mojokerto-Batu via Cangar, dan Trans Jatim Koridor VI rute Porong-Mojokerto. (far/fen)
Editor : Hendra Junaedi