MOJOKERTO RAYA - Akhir-akhir ini, suhu saat malam hingga pagi hari di wilayah Mojokerto terasa lebih dingin ketimbang biasanya. BMKG mencatat, suhu terendah di wilayah kota dan kabupaten bahkan mencapai 20-13 derajat celsius.
Ketua Tim Meteorologi BMKG Juanda Andrie Wijaya menyebut, hal ini dikarenakan Mojokerto Raya menjadi salah satu daerah di Jawa Timur yang tengah menghadapi fenomena bediding. Anomali ini biasa terjadi saat memasuki musim kemarau dengan langit cerah atau tanpa tutupan awan. ’’Sesuai prediksi, fenomena bediding ini berlangsung sampai bulan Agustus nanti seiring masa puncak musim kemarau,’’ ungkapnya, kemarin.
Ia menjelaskan, ada beberapa faktor pemicu terjadinya fenomena bediding. Pertama, hembusan angin Muson Australia yang membawa udara dingi dan kering ke area Jawa Timur. Kemudian langit cerah yang membuat panas permukaan bumi cepat terlepas ke atmosfer. ’’Meski bumi sedang berada di titik terjauh dari matahari atau fenomena aphelion, pengaruhnya ke suhu hanya sekitar 7 persen. Jadi faktor utamanya tetap angin dingin dan minim awan,’’ papar Andrie.
Sesuai hasil prakiraan, cuaca Mojokerto Raya akan cerah dan tidak ada hujan selama tiga hari kedepan. Sementara suhu tertinggi saat tengah terik diperkirakan di kisaran 30 derajat celsius. BMKG mengimbau masyarakat agar selalu waspada selama menghadapi fenomena bediding. Dimulai dengan memakai pakaian hangat selama suhu terasa dingin. ’’Karena fenomena bediding bisa terjadi bersamaan dengan kemarau basah. Jadi tetap waspada terjadinya potensi hujan lokal,’’ tukasnya. (vad/fen)
Editor : Hendra Junaedi