Untuk Kaji Narasi Sejarah Soekarno
KOTA - Polemik terkait narasi sejarah Soekarno di SDN Purwotengah terus menjadi atensi dari berbagai elemen masyarakat. Menyikapi hal tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Mojokerto menyebut bakal mengagendakan musyawarah bersama.
Kepala Dikbud Kota Mojokerto Ruby Hartoyo menyatakan akan menampung saran dan masukan dari masyarakat terkait narasi sejarah pada tugu Soekarno. Pihaknya mengaku bakal menggelar pembahasan bersama guna mendiskusikan terkait data dan sumber dari tapak tilas Bung Karno di masa kecil. ’’Ya, kita akan rembukan nanti,’’ ungkapnya saat ditemui di kantornya kemarin.
Dikatakannya, agenda duduk bersama itu direncanakan untuk mempertemukan sejumlah pihak yang berkompeten di bidang sejarah. Baik dari Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto hingga para pegiat sejarah Soekarno. ’’Termasuk elemen masyarakat yang menelusuri jejak sejarah Soekarno juga kita libatkan,’’ sebutnya.
Dari forum tersebut, dikbud berharap bisa menemukan titik terang dengan dukungan bukti-bukti sejarah maupun referensi data yang lebih valid. Namun, Ruby belum bisa memastikan terkait kapan agenda diskusi tersebut akan dilaksanakan. ’’Insya Allah dalam waktu dekat ini kita bisa berembuk bareng,’’ pungkasnya.
Seperti diketahui, data dan narasi yang tertulis pada tugu penanda jejak masa kecil Bung Karno di SDN Purwotengah menuai polemik. Sejumlah kalangan meragukan keakuratannya lantaran tidak adanya ketidakjelasan literatur pada tetenger yang berada di kompleks Galeri Soekarno Kecil ini.
Di antaranya terkait keterangan tahun sekolah Soekarno di Kota Mojokerto yang tertulis tahun 1907. Demikian juga dengan penyebutan Sekolah Ongko Loro atau Tweede Klassen Inlandsche School sebagai tempat mengenyam pendidikan Bung Karno.
Sejumlah pemerhati sejarah menilai, pada tahun tersebut tokoh berjuluk Putra sang Fajar ini masih tinggal bersama keluarganya di Sidoarjo. Berdasarkan besluit atau surat keputusan (SK) mutasi ayahnya, yakni Raden Soekeni baru pindah ke Kota Mojokerto pada tahun 1909. Sejak saat itu, Soekarno kemudian bersekolah di Eerste Klasse Inlandsche School atau Sekolah Ongko Siji. (ram/fen)
Editor : Hendra Junaedi