Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Elemen Masyarakat Dorong Dialog Terbuka, untuk Merevisi Narasi Sejarah Soekarno di Mojokerto

Rizal Amrulloh • Rabu, 18 Juni 2025 | 16:15 WIB
MURAL: Warga melintas di depan mural dinding bergambar Presiden RI pertama Soekarno di Kelurahan Purwotengah, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto kemarin (17/6).
MURAL: Warga melintas di depan mural dinding bergambar Presiden RI pertama Soekarno di Kelurahan Purwotengah, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto kemarin (17/6).

KOTA - Polemik narasi sejarah Soekarno di Kota Mojokerto turut menarik perhatian elemen masyarakat sejarah. Mereka yang berasal dari kalangan pendidik ini menilai pencantuman sumber penting dilakukan dalam penulisan sejarah.

Fendy Suhartanto, guru sejarah di SMAN 1 Puri mengaku prihatin mendengar polemik penulisan sejarah Soekarno di Kota Mojokerto. Terlebih penulisan sejarah yang tidak dilengkapi sumber rujukan yang jelas. ’’Pegiat sejarah mestinya tertib dalam pengggunaan sumber sejarah,’’ ujarnya.

Menurut pria lulusan Universitas Sebelas Maret (UNS) ini, pencantuman sumber penulisan sejarah sifatnya mutlak. Baik dalam penulisan buku maupun narasi seperti dalam tugu peringatan Soekarno di Kota Mojokerto. ’’Sumber rujukan itu penting. Artinya, mau mencantumkan nama sumbernya dan dari mana asalnya. Sehingga, orang lain bisa melacak dan membacanya juga,’’ terang Fendy.

Lebih jauh, dirinya menilai munculnya perbedaan tafsir sejaran sangat dimungkinkan. Oleh karena itu, adanya perbedaan pandangan mengenai penulisan sejarah Soekarno di Kota Mojokerto merupakan yang lumrah. ’’Bisa jadi penafsiran berbeda, dan itu hal lumrah dalam historiografi. Ini yang sering saya temukan di Mojokerto,’’ sambung lulusan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS ini.

Pria asal Jatirejo, Kabupaten Mojokerto ini juga mengingatkan, akibat kurang tertibnya mencantumkan sumber, membuat penulisan sejaran menjadi rancu. Bahkan, jika terus dibiarkan maka narasi sejarah tersebut bisa menjadi sebuah mitos. ’’Kalau konsekuensinya memang tidak ada. Akan tetapi, penulisan sejarah yang tidak tertib sumber malah nantinya memunculkan mitos daripada realitas sejarah itu sendiri,’’ tandasnya.

Pihaknya turut mendorong agar pihak yang berkepentingan membuka ruang dialog secara terbuka. Itu untuk membuka ruang diskusi terkait kritik sumber penulisan sejarah di Kota Mojokerto. ’’Apabila ada ruang dialog terbuka terkait sejarah tersebut akan lebih baik. Jadi, dari penulisan yang dilengkapi data bisa dibantah dengan data,’’ tandas Fendy.

Setali tiga uang juga disampaikan Sudarmanu, guru sejarah asal SMAN 1 Bangsal. Pihaknya mengingatkan para pegiat sejarah agar mengedepankan penggunaan metodologi dan disiplin sumber dalam penulisan sejarah. ’’Yang terpenting itu metodologi dan disiplin sumber,’’ cetus pria lulusan Unesa ini.

Kian terbukanya keran informasi dan sumber rujukan, menurut dia, membuat banyak pihak yang memiliki ketertarikan terhadap sejarah melakukan penulisan sejarah. Meski begitu, Sudarmanu kembali mengingatkan agar penulisan sejarah wajib menggunakan metodologi dan disiplin dalam mencantumkan sumber rujukan tulisan.

Sebelumnya, Sekretaris Komisi III DPRD Kota Mojokerto Rambo Garudo juga menyarankan agar dilakukan musyarawah bersama untuk mengkaji kembali keakuratan narasi sejarah tentang Bung Karno. Mengingat, tugu tersebut berada di SDN Purwotengah yang baru diresmikan sebagai Galeri Soekarno Kecil oleh Menteri Kebudayaan (Menbud) RI Fadli Zon pada Selasa (10/6) lalu. ’’Mumpung baru diresmikan, kalau memang ada (bukti-bukti) sejarah yang lebih sesuai alangkah bagusnya diselesaikan dengan duduk bersama,’’ tuturnya.

Politisi PDIP ini menyebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Mojokerto sebagai organisasi perangkat daerah (OPD) pengampu tugu tetenger dan Galeri Soekarno kecil juga diminta untuk mengagendakan forum diskusi.

Untuk mencari titik temu, diharapkan pertemuan tersebut dapat mewadahi berbagai pihak. Utamanya yang berkompeten tentang tapak tilas atau jejak sejarah Sang Proklamator. ’’Jadi dibutuhkan kerja sama dan komunikasi, sehingga satu sama lain bisa saling melengkapi data sejarah,’’ tegas Rambo. (ram/fen)

Editor : Hendra Junaedi
#Galeri Soekarno Kecil #polemik #bung karno #penulisan sejarah soekarno #penulisan sejarah #Galeri Soekarno #Kota Mojokerto #elemen masyarakat #soekarno