KOTA - Narasi dan data yang tertulis pada tugu penanda jejak masa kecil Soekarno di SDN Purwotengah, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto, terus menuai polemik. Pasalnya, keakuratannya diragukan sejumlah kalangan lantaran ketidakjelasan sumber yang dijadikan sebagai literatur pada tetenger yang berada di Galeri Soekarno Kecil ini.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Mojokerto Ruby Hartoyo mengungkapkan, narasi yang terukir pada tugu tetenger Soekarno di SDN Purwotengah merupakan hasil kurasi dari Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto.
Namun, dirinya mengaku belum mengetahui secara rinci terkait rujukan yang digunakan dalam naskah sejarah tentang riwayat pendidikan Koesno, nama lahir Soekarno. ”Sumbernya diambil dari sejumlah literatur, cuma untuk detailnya akan kami pastikan dulu,” ungkapnya saat ditemui Jawa Pos Radar Mojokerto, kemarin (12/6).
Demikian saat disinggung terkait keterangan tahun sekolah Soekarno di Kota Mojokerto yang tertulis 1907. Ruby juga meminta waktu untuk memastikan ke DKD. Termasuk dengan penyebutan Sekolah Ongko Loro atau Tweede Klassen Inlandsche School yang kini menjadi SDN Purowotengah sebagai tempat mengenyam pendidikan semasa tinggal di Kota Mojokerto.
Sejumlah kalangan pemerhati sejarah sempat mempertanyakan terkait keakuratan data dan narasi dari tokoh berjuluk Putra sang Fajar tersebut. Termasuk juga yang termuat dalam buku saku berjudul Soekarno di Mojokerto. Selain tak dilengkapi dengan daftar pustaka atau literatur yang dijadikan rujukan, pada tempo tersebut keluarga Soekarno diyakini masih tinggal di Sidoarjo.
Hal itu sebagaimana besluit atau semacam surat keputusan (SK) mutasi ayahnya, Raden Soekemi, sebagai tenaga pendidik dari 1907 hingga 1909. Ruby mengakui memang tidak menutup kemungkinan terdapat perbedaan. Karenanya dikbud berencana akan duduk bersama dengan DKD serta pihak-pihak yang berkompeten lainnnya guna memperjelas tapak tilas Soekarno kecil di Kota Mojokerto. ”Jadi perlu didiskusikan bersama dan menampung semua masukan-masukan,” sebutnya.
Terkait dengan potensi dilakukan koreksi, Ruby meyatakan, akan diputuskan setelah dilakukan pembahasan bersama. Pihaknya juga menegaskan bakal melibatkan Jaringan Kabupaten/Kota Tapak Sejarah (Jaket) Bung Karno yang turut hadir saat peresmian Galeri Soekarno Kecil oleh Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, Selasa (10/6) lalu. ”Karena kita kan tidak tahu yang mana (yang lebih akurat), perlu diskusi bersama dulu,” pungkas dia. (ram/ris)
Editor : Hendra Junaedi