Akses Baru di TBM Senilai Rp 5,2 Miliar Makin Rusak
KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Belum genap dua tahun, kondisi Jalan Ir Soekarno di kawasan Taman Bahari Mojopahit (TBM), Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, semakin rusak. Jalan paving yang dibangun dengan menelan anggaran Rp 5,2 miliar itu ambrol dan rompal sana-sini.
Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto (JPRM) di lokasi kemarin (9/6), paving yang jebol berada di ujung jalan dekat perempatan Jembatan Rejoto. Badan jalan longsor sepanjang hampir satu meter. Permukaan jalan yang amblas menyebabkan sejumlah balok paving terlepas. ”Sudah sekitar sebulan ini rusak, sekarang tambah parah,” kata Kurniawan, salah seorang pengendara.
Selain ambrol, permukaan jalan bergelombang dan banyak titik yang pavingnya rompal. Bagian balok paving mengalami retak-retak hingga cuil dan protol. Jalan Ir Soekarno yang tak rata makin kentara setelah hujan. Banyak titik tergenang menandakan permukaannya cekung.
Baca Juga: Kurun 1907-1909, Soekarno Bersekolah di Sidoarjo
Kondisi ini belum lagi soal lebarnya celah antarpaving yang membuat pengguna jalan mesti waspada. Beberapa bagian terdapat renggangan cukup lebar, bahkan di bagian tengah jalan. ”Sudah pernah diperbaiki sama dinas, dirapatkan dan ditambah paving, tapi ya banyak yang renggang lagi,” keluh dia.
Kualitas jalan baru tersebut sebelumnya memantik perhatian Pembina Lembaga Pemantau Pembangunan dan Kinerja Pemerintah (LP2KP) Mojokerto Rif’an Hanum. Dia menuding proyek yang dimenangkan CV Tiga Lautan Berlian asal Kabupaten Malang itu dikerjakan asal-asalan dan minim pengawasan.
Pekerjaan konstruksi ini menelan anggaran APBD Kota Mojokerto tahun anggaran 2023 sebesar Rp 5,26 miliar. Rif’an curiga tanah uruk yang digunakan untuk pemadatan jalan tak sesuai spesifikasi. Akibatnya banyak paving di jalan sepanjang 1 kilometer ini yang renggang. ”Uruknya berarti ada lempungnya, bukan uruk betulan, sirtu. Kalau sudah begini harus dibongkar dan dikeruk,” ucapnya.
Berdasarkan penelusuran JPRM, kondisi paving yang renggang sudah muncul sekitar lima bulan setelah proyek tuntas pada akhir 2023. Setelah masa pemeliharaan oleh kontraktor selesai, pemeliharaan rutin dilakukan pemkot. Salah satunya berlangsung pada April lalu.
Saat itu, Kabid Bina Marga DPUPR Perakim Firman Syah menyatakan, pemadatan tanah sudah dilakukan maksimal. Hanya saja kontur ruas jalan cenderung labil karena lokasinya berada di tepi Sungai Ngotok. ”Istilahnya merupakan tanggul, jadi kena beban kendaraan dan hujan akhirnya menekan ke bawah dan mendorong ke samping kiri-kanan, akhirnya pavingnya renggang,” jelasnya, Selasa (29/4). (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi