- Sebagian Terpisah dengan Rombongan
- Warga Bangsal Wafat di Terowongan Mina
KABUPATEN – Jemaah haji asal Kabupaten Mojokerto terpaksa berjalan kaki menempuh Jamarat di Mina dari Muzdalifah dengan berjalan kaki sepanjang 3 kilometer (Km) pulang pergi (PP). Ini setelah tidak adanya bus pelayanan yang mengantar mereka untuk melakukan ritual ibadah lempar jumrah. Sebagian dari mereka juga banyak yang terpisah dari rombongan dan keluarga. Bahkan, satu jemaah dilaporkan meninggal dunia di terowongan Mina.
Jemaah haji asal Desa Ngrowo, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, ini wafat usai menjalani lempar jumrah aqabah, tepatnya di terowongan menuju Mina, Makkah, Jumat (6/6) malam. Dasuki Sahful Jamrowi, jemaah dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Armina tersebut dinyatakan meninggal dunia oleh tim medis pukul 22.00 Waktu Arab Saudi (WAS). Setelah ambruk saat perjalanan pulang dari Jamarat menuju Mina.
Kelelahan dan adanya riwayat penyakit jantung disinyalir menjadi penyebab wafatnya Dasuki. Hal tersebut diakui pimpinan KBIHU Armina Muzaini Rois yang turut mendampingi almarhum selama menjalani rukun dan wajib haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Dari keterangan rombongan, selama perjalanan menuju Jamarat, almarhum sudah mengeluhkan kondisi kesehatannya. Oleh polisi setempat, almarhum lantas dicarikan kursi dan jasa dorong senilai 50 riyal. Namun, di tengah perjalanan, dia harus turun karena jasa dorong justru meminta 500 riyal. Hingga kemudian almarhum bersama istri, Endang, bertahan dan memilih jalan kaki sampai melaksanakan jumrah aqabah. ’’Saya ketemu di jumrah aqabah karena berbeda kafilah dan syarikah. Beliau sempat memotong rambutnya atau tahalul,’’ ungkapnya.
Setelah itu, rombongan bergerak pulang menuju tenda dengan berjalan kaki ke Mina. Namun, sesampainya di terowongan kedua atau terakhir, tubuh almarhum tiba-tiba ambruk dan tak sadarkan diri. Selang beberapa menit, Dasuki dinyatakan meninggal dunia oleh regu penolong yang datang. Polisi lantas menghubungi petugas agar jenazah dibawa ke rumah sakit sebelum disalati dan dimakamkan.
’’Dari Muzdalifah ke Mina sampai malam informasinya belum makan. Namun, saat di jumrah aqabah dikasih roti oleh ketua rombongan. Jenazah dibawa ke RS, sedangkan rombongan mengantar istrinya ke tenda,’’ tambahnya. Berdasarkan keterangan keluarga, almarhum memiliki riwayat penyakit jantung. Oleh dokter, almarhum juga diharuskan rutin minum obat dan tidak boleh terlambat selama menjalani ibadah haji. ’’Kami tanyakan istrinya, tidak ada keluhan apa pun. Cuma memang tidak makan rutin, hanya konsumsi roti,’’ tandas Muzaini.
Almarhum sendiri tergabung dalam kloter 47 Embarkasi Surabaya (SUB) bersama 97 jemaah lain asal Kabupaten Mojokerto. Selama di Mina, dia dilayani syarikah Rehlat dan Manafea. Sementara itu, selama menjalankan ritual ibadah lontar jumrah aqabah jemaah haji asal Indonesia, termasuk dari Kabupaten Mojokerto tidak mendapat fasilitas bus pengantar dari Muzdalifah ke Mina. Mereka terpaksa berjalan kaki menuju Jamarat yang jaraknya sekitar 3 kilometer (Km). ”Tidak ada layanan bus, jadi semua jemaah harus berjalan kaki menuju Jamarat untuk lempar jumrah,” ungkap Bahrul Ulum, tenaga medis yang turut mendampingi jemaah haji Kabupaten Mojokerto.
Kendati selama perjalanan tampak beberapa bus di tepi jalan yang terparkir, dia mengaku, armada tersebut tidak beroperasi. Sehingga tidak ada pilihan selain jemaah harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Ada yang berangkat secara rombongan dengan didampingi masing-masing KBIHU, kloter, regu, kelompok, bahkan sendirian akibat terpisah dengan rombongan maupun keluarga. ”Tapi, alhamdulillah jemaah sudah menyelesaikan lempar jumrah dan kembali ke tenda. Meski kembali dengan berjalan kaki menempuh perjalan lagi sepanjang 3 kilometer,” tandasnya.
Choiroh, salah satu jemaah asal Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, terpaksa berjalan sendiri setelah dirinya terpisah dengan rombongan. Hal ini dikarenakan kondisi jalan menuju Jamarat cukup padat dan dipenuhi para jemaah dari berbagai negara. Dia bahkan tidak bisa mendampingi ibunya, Djumainah, setelah terpisah di terowongan Mina. ”Terpisah dengan rombongan dan keluarga. Selama perjalanan saya hanya membaca salawat, istighfar, dan memperbanyak doa. Semoga bisa kumpul lagi dengan ibu dan rombongan,” jelasnya sembari menunjukkan kondisi terowongan Mina yang dipenuhi jemaah haji. (far/ris)
Editor : Hendra Junaedi