Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Jadi Sarang Kecebong, Patah, dan Ditumbuhi Jamur, Kondisi Perahu Susur Sungai Proyek TBM Kota Mojokerto Memprihatinkan

Yulianto Adi Nugroho • Jumat, 23 Mei 2025 | 16:10 WIB

TAK TERAWAT: Deretan perahu di kawasan TBM, Kecamatan Prajurit Kulon, yang sebagian sudah mengalami kerusakan, kemarin (22/5).
TAK TERAWAT: Deretan perahu di kawasan TBM, Kecamatan Prajurit Kulon, yang sebagian sudah mengalami kerusakan, kemarin (22/5).
 

 KOTA – Fasilitas Taman Bahari Mojopahit (TBM) di kawasan Jembatan Rejoto, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota mojokerto, banyak mengalami kerusakan. Salah satunya kondisi perahu susur sungai yang sudah setahun ini mangkrak. 

Jika pada akhirnya TBM yang menelan anggaran puluhan miliar rupiah jadi dibuka sebagai tempat wisata, Pemkot Mojokerto tampaknya harus merogoh kocek lagi untuk melakukan perbaikan. 

Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto di lokasi kemarin (22/5) menunjukkan kondisi perahu-perahu TBM yang tak layak digunakan. Sedikitnya 3 dari 5 unit perahu warna biru kayunya patah dan hanya diikat dengan kawat. 

 

 

Ada pula bagian kayu perahu yang mengalami keropos serta tak sedikit ditumbuhi jamur. Satu perahu lagi kacanya justru hilang. Kendaraan air berlogo pemkot ini terparkir di bantaran Sungai Ngotok sebelah barat Jembatan Rejoto. Perahu terkena hujan dan panas karena dibiarkan tanpa pelindung.

 Sebaliknya, 10 perahu bercat merah kondisinya agak lebih baik karena ”berteduh” di bawah jembatan. Meski demikian, ke-15 perahu ini sama-sama jadi sarang kecebong karena dipenuhi air hujan.

 Wahyu, seorang pengunjung mengatakan, belasan perahu itu belum pernah terpakai. ”Nggak pernah digunakan, mangkrak,” ucap pemuda tersebut. Perahu susur sungai di TBM terbuat dari kombinasi bahan fiber, besi, dan kayu. 

 

 

Sekadar diketahui, pengadaan 15 unit perahu ini dianggarkan pemkot Rp 1,3 miliar pada 2024. Rinciannya 10 perahu merah seharga Rp 1 miliar dan Rp 300 juta untuk pembelian 5 perahu biru. 

Dengan demikian, satu perahu merah yang berkapasitas 7-8 orang itu harganya Rp 100 juta. Adapun satu perahu biru yang muat 4 orang seharga Rp 60 juta.

 

Kini, belasan perahu mahal yang rencananya jadi pendukung wahana wisata susur Sungai Ngotok itu dibiarkan tak terurus hingga akhirnya mengalami kerusakan. Kondisi ini tak lepas dari buramnya kelanjutan proyek TBM yang sejauh ini telah menelan anggaran senilai Rp 27,7 miliar sejak 2023. 

Selain perahu, kerusakan juga muncul pada bangunan di area TBM. Seperti batu bata dinding bergaya Majapahitan yang cuil dan rontok di akses masuk area inti. Tak hanya itu, hampir seluruh besi penutup tiang lampu penerangan di area taman sisi timur jalan juga hilang. Perangkat itu diduga sengaja dicuri, mengingat bekas yang ditinggalkan. 

Plt Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Mojokerto Muraji sebelumnya menyatakan akan mengecek kondisi TBM yang mengalami kerusakan. Termasuk besi penutup tiang lampu penerangan yang lenyap. ”Terima kasih infonya, siap cek lokasi,” katanya, Senin (19/5). (adi/ris)

 

Editor : Hendra Junaedi
#Sarana dan Prasarana #kapal #Taman Bahari Mojopahit #fasilitas #proyek mangkrak #rejoto kota mojokerto #tempat wisata #perahu #taman bahari majapahit #tbm