- Imbas Terkena Limbah Debu Residu PT Wilmar
- Pabrik Berdalih Butuh Tes Analisa Udara
KABUPATEN - Kepedulian PT. Wilmar Padi Indonesia Mojokerto di Desa Jasem, Kecamatan Ngoro terhadap lingkungan dipertanyakan. Terlebih, terungkap debu residu pengolahan padi yang ditimbulkan kerap membuat pelajar SMPN 1 Ngoro gatal-gatal.
’’Anak-anak kerap gatal-gatal,’’ ungkap Kepala SMPN 1 Ngoro, Sutrisno Slamet, saat hearing bersama DPRD, Kamis (15/5). Praktisnya, dugaan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh pabrik ini cukup mengganggu proses kegiatan belajar mengajar (KBM) tiap harinya.
Keluhan ini, lanjut Sutrisno, sebelumnya juga sudah dilaporkan kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto untuk ditindaklanjuti. ’’Yang kami khawatirkan itu kesehatan anak-anak didik kita dalam jangka panjang karena setiap hari menghirup limbah debu itu,’’ paparnya.
Sayangnya, keluh Sutrisno, dampak lingkungan tersebut seolah tidak pernah menjadi atensi. Apalagi, pihak perusahaan hanya terlihat baik-baik saja ketika ada sorotan tajam dari masyarakat dan kalangan dewan belakangan ini. ’’Jangankan CSR, perusahaan ke sekolah saja baru setelah ada dewan sidak itu. Sebelumnya tidak pernah,’’ sesalnya.
Senada juga diungkapkan, Kepala Desa Jasem, Kecamatan Ngoro, Moh. Imam Chanafi. Menurut dia, persoalan debu di Desa Jasem akibat pabrik pengolahan padi sebenarnya sudah bertahun-tahun meresahkan warga. Selain berdampak pada lingkungan pertanian, limbah tersebut dalam jangka panjang dikhawatirkan berdampak kesehatan kepada masyarakat. ’’Tapi saya heran kok bisa lolos baku mutu udara, padahal setiap hari debu olahan gabah itu bertebaran di udara,’’ ungkapnya.
Bahkan, Imam meyakini, jangankan alat uji DLH, cukup berdiam diri tiga jam saja secara kasat mata ada dugaan pencemaran lingkungan. Apalagi sekarang lagi panen raya, sehingga produksinya semakin besar. ’’Kapasitas yang kecil-kecil saja berdebu, apalagi yang kapasitas besar. Saya sering disambati warga akibat debu ini. Yang jelas sampai saat ini, debu itu masih bertebaran,’’ tandasnya.
Tak urung, pihaknya meminta perusahaan berbenah. Termasuk terlibat aktif menjaga lingkungan sekitar agar tidak menjadi gaduh.
Sementara itu, Pimpinan Cabang PT. Wilmar Padi Indonesia, Sudarsono mengaku perusahaannya selalu improve atas persoalan yang ada di tengah masyarakat. Hanya saja, pihaknya tidak menampik debu yang ditimbulkan menjadi polemik di tengah masyarakat.
’’Soal dampak lingkungan ke sekolah dan warga, itu perlu dites hasil analisa udara. Jika arahannya tidak menggunakan DLH, kita akan mencari menggunakan yang lain, karena yang bisa mengukur itu kan alat ukur,’’ ungkapnya. (ori/fen)
Editor : Hendra Junaedi