Warga Kenduri hingga Wayangan di Sumber Air dan Pepunden Desa
Memasuki bulan Selo dalam kalender Jawa atau Dzulhijah dalam kalender Hijriyah merupakan bulan syukur bagi masyarakat Jawa. Seperti halnya di wilayah agraris seperti Kabupaten Mojokerto, pasca panen raya, masyarakat berbasis pertanian ini melaksanakan sedekah bumi.
SOFAN KURNIAWAN, Dawarblandong
RABU (14/5) pagi, warga di Dusun Sekiping, Desa/Kecamatan Dawarblandong sudah sibuk. Mereka mempersiapkan diri menggelar acara sedekah bumi. Rangkaian acara telah disusun. Seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebagaimana tradisi tersebut bergulir sejak leluhur mereka ada.
Gisan, tokoh masyarakat setempat, mengatakan kegiatan sedekah bumi digelar sebagai wujud rasa syukur atas berkah yang diberikan oleh Tuhan. Terlebih, bulan-bulan ini warga setempat yang mayoritas merupakan petani telah melakoni panen raya. Hasil panen yang memuaskan dan minimnya serangan hama hingga bencana membuat warga merasa terpanggil menggelar sedekah desa.
Warga dusun melaksanakan doa dan kenduri. Kemudian, mereka melanjutkan tradisi berupa dengan gelaran wayang kulit di Sentono atau pepunden dusun. ’’Sentono di sini merupakan tempat sumber mata air yang disakralkan oleh warga setempat. Sebelum ada layanan PDAM, dahulu warga dusun mengambil air dari sumber di sini,’’ kata Gisan.
Pertunjukan wayang kulit yang dimainkan oleh Ki Dalang Erwan Putra, 21. Lakon yang dibawakan adalah lakon carangan berjudul Ngresiki Olone Ati atau yang berarti membersihkan hati dari prasangka dan sifat buruk. Ki Erwan memainkan satu babak dalam cerita, hanya berdurasi 30 menit.
Penampilan wayang kulit di pepunden ini merupakan syarat yang harus dilaksanakan warga setempat saat sedekah bumi. ’’Wayang akan dimainkan lagi semalam suntuk di balai dusun,’’ ungkap Erwan selepas wayangan di pepunden.
Selain sebagai wujud rasa syukur atas kelimpahan rezeki pasca panen raya, sedekah bumi sekaligus menjadi wujud pelestarian seni tradisi di kawasan Mojokerto. Itu sudah berlangsung sejak zaman dahulu ketika leluhurnya masih hidup. ’’Wayangan ini juga sekaligus uri-uri seni tradisi yang sudah turun temurun dilakukan warga,’’ ungkap dalang muda tersebut. (fen)