SEMENTARA itu, petaka yang dialami lima orang santri Ponpes Amanatul Ummah Mojokerto saat pelesir di Pantai Balekambang, Malang, menjadi atensi berbagai pihak. Pasalnya, insiden terjadi setelah rombongan pelajar itu keluar lingkungan asrama tanpa pamit keluarga maupun pihak pondok.
Hal ini diungkapkan Bahruddin, ayah MFS,15, salah seorang santri terseret ombak yang belum ditemukan. Warga Gedangan, Sidoarjo, ini mengaku sempat syok setelah menerima kabar anaknya menjadi korban tenggelam di Malang. Sebab, dua hari sebelumnya, Senin (7/4), ia mengantarkan langsung MFS kembali ke pondok usai menjalani libur lebaran.
’’Tiba-tiba dikabari seperti ini hari Rabu (9/4), kayak nggak percaya aja,’’ ucapnya, saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Mojokerto melalui sambungan telepon, Kamis (10/4). Pihaknya mengaku, MFS berada di Pantai Balekambang untuk pelesir. Anaknya pergi ke lokasi dengan enam teman satu kamar asramanya di pondok. ’’Bukan study tour atau semacamnya,’’ kata Bahruddin.
Ia tak menampik jika MFS dan teman-temannya keluar asrama tanpa seizin keluarga maupun pengurus pondok. Hanya saja, Bahruddin menyesalkan ketujuh santri bisa keluar lingkungan pondok dengan leluasa. ’’Yang saya tanyakan, kok bisa lolos? Walau memang waktu itu sedang banyak pemulangan santri ke pondok,’’ ungkap ayah MFS.
Meski begitu, ia belum tahu banyak soal kronologi MFS sampai berada di luar kota. Sejauh ini, lanjutnya, sudah ada pembicaraan antara pihak yayasan dengan para wali santri. Khususnya orang tua tiga korban terseret ombak yang belum ditemukan. ’’Ya supaya fokus pencarian dahulu, (ketiga santri yang terseret ombak) ditemukan dahulu,’’ tuturnya.
Informasi yang dihimpun, hingga kemarin petang pencarian belum membuahkan hasil. Operasi SAR bakal kembali dilanjutkan pagi ini. Sepanjang Kamis (10/4), pencarian digelar dengan penyisiran darat dan laut. Personel gabungan dibagi menjadi lima search and rescue unit (SRU).
Dua di darat dan tiga di air. Di darat, tim gabungan menyisir dan memantau sekitar garis pantai. Sedangkan SRU air menelusuri dari bibir pantai hingga laut lepas menggunakan tiga perahu karet. (vad/fen)
Editor : Hendra Junaedi