Berdiri pada Abad 18, Peninggalan Raden Ngabehi Wesangsari
KABUPATEN - Beberapa bangunan bersejarah Islam di Kabupaten Mojokerto masih terawat hingga kini. Salah satunya Masjid Baiturahman di Desa/Kecamatan Gedeg yang disebut-sebut telah berusia 208 tahun. Masjid ini merupakan peninggalan dari Raden Ngabehi Wesangsari, abdi dalem Keraton Yogyakarta. Selain masjid, di sekitar area juga ditemukan kompleks makam kuno bergaya Islam Jawa.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq meyakini Wesangsari merupakan abdi dalem keraton yang ditunjuk menjadi penggawa Gunungkendeng. Berdasarkan buku silsilah Natadiningratan, Wesangsari, juga menjadi salah satu menantu bupati Pasuruan. Berdasarkan informasi yang ia terima, Masjid Baiturrahman diperkirakan berdiri di abad ke-18, tepatnya pada tahun 1817.
Saat itu, Kecamatan Gedeg masuk dalam Kawedanan Gunung Kendeng yang menjadi bagian dari Kadipaten Surabaya sebelum digabung ke Kabupaten Mojokerto tahun 1910. ’’Kemungkinan Masjid Gedeg didirikan pada tahun 1817. Model arsitekturnya serupa dengan Masjid Demak yang menjadi prototipe masjid Jawa,’’ ungkapnya.
Dilihat sekilas, beberapa bagian masjid masih berdiri kukuh. Tidak ada kubah di puncak karena fungsi kubah diganti dengan cungkup limasan. Di cukup paling atas, terdapat ruangan yang difungsikan sebagai tempat mengumandangkan azan. Untuk bisa naik, muazin disediakan tangga kayu yang masih terawat hingga kini.
Bangunan utama masjid juga ditopang empat tiang atau soko guru dari kayu jati. Konon, kayu jati diambil dari hutan perbatasan Kemlagi dan Dawarblandong yang terkenal berkualitas karena tumbuh di atas tanah kapur. ’’Soko guru itu masih ada sampai saat ini. Sesuai fungsinya, Masjid Kawedanan Gunungkendeng menjadi tempat kegiatan keagamaan masyarakat,’’ tambahnya.
Tidak jauh dari masjid, turut berdiri pesantren sebagai tempat belajar agama. Konon, pesantren didirikan Kiai Basir dari Sidosermo, Surabaya, yang diminta Wasengsari membantunya menjalankan tugas penghulu. Tidak hanya itu, Masjid Gedeg ini juga sempat menjadi kantor untuk melayani urusan pernikahan, talak, dan waris.
Selain pesantren, di kompleks masjid juga ada pemakaman keluarga Raden Ngabehi Wasengsari. Terdapat pula pusara di belakang masjid yang merupakan makam prajurit Diponegoro yang lari ke Gedeg. Terdapat pula dua sumur di sisi kanan dan kiri masjid yang disediakan bagi jemaah untuk bersuci.
’’Pesantren yang diasuh Kiai Basir dulu pernah besar, namun meredup setelah Kiai Basir wafat. Sisa bangunan pesantren masih ada seperti musala dan kamar santri atau guthekan,’’ pungkas Yuhan. (far/ris)
Editor : Hendra Junaedi