KABUPATEN – Pabrik Gula (PG) Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto terus melakukan investasi besar-besaran guna meningkatkan kapasitas olah instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Hal ini, sekaligus sebagai komitmen dalam menurunkan beban pencemaran air.
Asman Lingkungan PG Gempolkrep M. Febbia Gessantara mengatakan, sejak tahun 2020 PG Gempolkrep sudah melakukan investasi besar-besaran untuk meningkatkan kapasitas IPAL.
Bahkan, lanjut dia, pengolahan mencapai 5.250 meter kubik per hari. Meliputi, peningkatan kapasitas kolam aerasi sebesar 300 persen dari kapasitas semula, dan penambahan peralatan pemisahan fisis untuk menurunkan total suspended solid (TSS).
”Dengan investasi ini, kami berkomitmen menurunkan beban pencemaran air,’’ ungkapnya, kemarin (29/8).
Dalam jangka panjang, lanjut Febbia, PG Gempolkrep mengikuti program penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan (proper) sejak tahun 2012. ’’Proper PG Gempolkrep minimal selalu biru (taat), dan bahkan selama 4 tahun, pernah mendapat proper hijau (2016 - 2019),’’ tegasnya.
Di samping itu, menurut dia, PG Gempolkrep juga menerapkan sistem manajemen lingkungan yang terintegrasi dengan sistem manajemen mutu dan sistem manajemen K3 (keselamatan dan kesehatan kerja).
Selain melakukan analisa internal secara rutin, PG Gempolkrep turut menganalisakan limbahnya ke laboratorium independen berakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN).
’’Hasilnya, secara rutin (per triwulan dan per semester) dilaporkan kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto, dan Provinsi Jatim,’’ tandasnya.
Febbia menegaskan, selama ini PG Gempolkrep juga aktif melakukan recycle air limbah. Dalam hal ini adalah air jatuhan kondensor yang didinginkan menggunakan 3 set cooling tower.
’’Untuk tahun 2025 mendatang, PG Gempolkrep sudah mengajukan rencana investasi ke kantor pusat PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) selaku induk perusahaan dalam penyempurnaan sistem pendinginan air. Harapannya, agar lebih banyak lagi air limbah yang bisa di-reuse dan recycle,’’ tandasnya. (ori/ris)
Editor : Hendra Junaedi