Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Dilanda Bediding, Suhu Terendah 21 Celsius

Martda Vadetya • Kamis, 18 Juli 2024 | 13:27 WIB
SEJUK: Nuansa senja di kawasan Puri, Kabupaten Mojokerto, kemarin. Beberapa hari terakhir ini suhu udara di kawasan Mojokerto terasa dingin pada pagi dan malam hari namun terik pada siang hari
SEJUK: Nuansa senja di kawasan Puri, Kabupaten Mojokerto, kemarin. Beberapa hari terakhir ini suhu udara di kawasan Mojokerto terasa dingin pada pagi dan malam hari namun terik pada siang hari

MOJOKERTO RAYA - Belakangan ini cuaca Mojokerto terasa dingin pada pagi hari dan terik di siang hari.

Hal ini tak lain akibat adanya fenomena bediding.
BMKG memperkirakan akan berlangsung selama masa puncak musim kemarau hingga beberapa pekan kedepan.

Hal ini diutarakan Ketua Tim Meteorologi BMKG Juanda Shanas Septy Prayuda.

Fenomena bediding yang terjadi saat dini hari hingga pagi tersebut memengaruhi suhu harian di Mojokerto.

Dengan suhu terendah 21 derajat celsius dan tertinggi 31 derajat celsius saat terik. ’’Fenomena bediding ini suhu dingin pada malam hingga pagi hari dan tergolong normal. Karena fenomena tahunan,’’ ujarnya.

Dijelaskannya, fenomena bediding biasa terjadi saat puncak musim kemarau. Tahun ini bediding diprakirakan berlangsung selama dua bulan.

’’Terjadi saat puncak musim kemarau di bulan Juli ini sampai Agustus,’’ terang Shanas.

Menurutnya, fenomena bediding terjadi akibat angin dari arah timur membawa massa udara dingin dan kering dari Australia ke Indonesia. Ditambah, kondisi langit yang cenderung cerah tanpa awan saat musim kemarau.

’’Kondisi ini membuat radiasi matahari yang diterima bumi lebih besar sehingga suhu udara meningkat drastis pada siang hari,’’ paparnya.

Justru pada malam hari, lanjut Shanas, tidak adanya awan yang menahan panas bumi dikembalikan ke atmosfer membuat suhu terasa dingin.

’’Panas bumi yang dilepaskan kembali ke atmosfer dengan cepat membuat udara menjadi dingin,’’ urai Shanas.

BMKG menegaskan, fenomena bediding tidak dipengaruhi fenomena aphelion yang juga sedang terjadi.

Fenomena aphelion sendiri terjadi ketika bumi sedang berada pada titik terjauh orbitnya dari matahari.

’’Tetapi fenomena aphelion tidak berpengaruh terhadap suhu bumi,’’ tegasnya.

Pada masa puncak kemarau yang dibarengi fenomena bediding ini, BMKG mengimbau agar masyarakat tetap menjaga kesehatan.

Di antaranya, tidak menyalakan AC maupun kipas angin terlalu dingin. Termasuk memakai pakaian tertutup saat aktivitas luar ruang di siang hari agar tidak terpapar sinar matahari langsung. (vad/fen)

Editor : Hendra Junaedi
#cuaca dingin #bediding #BMKG