KOTA - Ornamen bergaya Majapahitan yang dipasang di sejumlah jembatan di Kota Mojokerto tak terawat. Selain banyak yang hilang, hiasan bermaterial resin itu juga hancur berserakan. Ini belum lagi soal aksesoris lampu yang lebih dulu amblas.
Proyek ornamen jembatan sebetulnya sudah dikeluhkan warga sejak awal. Pemasangan aksesoris khas Majapahitan yang bertujuan untuk mempercantik penampilan kota itu memakan jalur pedestrian.
Akibatnya pejalan kaki terpaksa turun ke badan jalan saat melintas. ’’Ya bagus sih, tetapi bagaimana ya,’’ keluh Agung, warga di sekitar jembatan.
Hingga kini setidaknya terdapat 15 titik jembatan yang dipasangi ornamen serupa. Proyek ini dari dana corporate social responsibility (CSR) dan dikerjakan sepanjang 2021-2022.
’’Ya bagus sih, tetapi kalau malah mengganggu begitu bagaimana ya,’’ keluh Agung, warga di Jembatan Murukan, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Minggu (30/6).
Di samping keberadaannya yang kontroversial, kondisi ornamen juga tak dirawat. Banyak unit yang hilang atau patah sehingga tak terpasang utuh.
Di jembatan tempat Agung beraktivitas memancing ikan kemarin bahkan terdapat ornamen yang hancur. Kepingan material bercat keemasan itu berserakan di badan jembatan Jalan KH. Usman tersebut.
Agung menengarai ornamen tersebut dirusak oleh sekelompok pemuda usai menghadiri pengajian Habib Syech di Lapangan Raden Wijaya, Senin (24/6).
Pengajian itu digelar pemkot dalam rangka memperingati HUT ke-106 Kota Mojokerto. ’’Anak-anak kan ramai sekali, mereka suka ngawur. Sebelumnya ada yang tawuran sampai bikin (ornamen) yang di seberang jalan patah,’’ tuturnya.
Kemungkinan aksi perusakan makin menguat mengingat ornamen dibuat dari bahan resin.
Bobot material tersebut cukup enteng dan bisa hancur ketika dihantam dengan benda keras. Hal ini juga dibenarkan oleh seorang perajin spesialis aksesoris Majapahitan.
’’Kalau ringan berarti resin. Mungkin pengerjaannya tidak maksimal, misal tidak ada rangka penguat dan lain-lain,’’ ujar dia.
Agung menambahkan, minimnya perawatan juga membuat aksesoris tambahan berupa lampu rusak.
Baik lampu sorot yang menerangi ornamen maupun lampu kabel yang mengular di trotoar. Lampu-lampu itu kini sudah tak berbekas karena menurutnya sudah lama amblas. ’’Pemerintah selalu begitu, gampang buat tetapi tidak dirawat,’’ cetusnya.
Pihak Pemkot Mojokerto belum memberi konfirmasi soal kondisi ornamen jembatan ini. Kepala Diskominfo Santi Ratnaning Tias tak membalas pesan yang dikirim lewat WhatsApp. (adi/fen)
Editor : Hendra Junaedi