Selain terminal, stasiun Mojokerto juga tak luput dari pemantauan dan pemeriksaan sejak musim mudik Lebaran 2024 dimulai kemarin.
Dari pemeriksaan itu, petugas menemukan sejumlah awak kereta api yang menderita sejumlah gangguan kesehatan.
Mulai hipertensi, hiperkolesterol, hingga gula darah tinggi. Mereka terpaksa mendapat treatment dan pemeriksaan ulang agar tidak mengganggu perjalanan selama mudik.
Seperti yang terlihat di Stasiun Mojokerto kemarin. Dari 12 awak mulai dari masinis, penjaga palang pintu, tim keamanan stasiun hingga penumpang, didapati dua orang yang kurang sehat.
Keduanya bahkan tidak bisa mengikuti tes urine narkoba lantaran baru saja mengonsumsi obat-obatan. Sehingga hasil dari uji urine dianggap kurang akurat.
’’Dua orang tidak dites urine karena usai mengonsumsi obat pilek dan batuk. Kami tidak bisa melakukan tes urine karena akan berpengaruh pada hasilnya,’’ ujar Kasatnarkoba Polres Mojo Kreto Kota, Iptu Muhammad Suparlan.
Tes kesehatan dan urine ini diakui Suparlan akan terus digelar agar keselamatan warga bisa dijamin.
Khususnya yang melaksanakan mudik dengan menggunakan transportasi massal. Dengan adanya pemeriksaan awak bus dan kereta api, maka potensi kecelakaan bisa diminimalisir.
’’Untuk 10 orang yang tes urine, hasilnya negatif semua. Keperluan tes narkoba ini untuk mengetahui adanya konsumsi narkoba atau tidak. Karena dengan mengonsumsi zat narkotika, maka kesadarannya otomatis menurun sehingga membahayakan penumpang selama perjalanan,’’ bebernya.
Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan PPKB Kota Mojokerto, drg Citra Mayangsari menambahkan, dari 24 awak dan penumpang kereta yang menjalani hasil tes kesehatan, 7 di antaranya mengalami gangguan.
Mereka terindikasi menderita darah tinggi atau hipertensi, hiperkolesterol, dan gula darah tinggi.
Mereka lantas diberikan treatment berupa asupan obat-obatan dan suplemen guna menetralisir kondisi.
’’Tensi tinggi sangat berbahaya bagi masinis maupun penjaga perlintasan. Karena efeknya macam-macam, jika tidak pernah diobati bisa terjadi stroke atau serangan jantung saat berkendara,’’ pungkasnya. (far/ron)
Editor : Fendy Hermansyah