Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Masa Panen, Harga Gabah di Mojokerto Anjlok, Bulog Surabaya Selatan Sebut Belum Ada Instruksi Pembelian Beras Petani

Khudori Aliandu • Sabtu, 30 Maret 2024 | 12:25 WIB

Barang kebutuhan pokok seperti beras, gandum, jagung, kedelai, garam, daging, telur, susu, dan buah-buahan.
Barang kebutuhan pokok seperti beras, gandum, jagung, kedelai, garam, daging, telur, susu, dan buah-buahan.
KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Para petani di Kabupaten Mojokerto menjerit atas anjloknya harga gabah di tingkat petani.

Sebab, di tengah memasuki masa panen, harga kering panen (HKP) hanya Rp 5.300 per kilogram (kg) dari sebelumnya Rp 6.500 per kg.

Adi Dwi, petani asal Desa Singowangi, Kecamatan Kutorejo mengatakan, para petani belakangan harus telan pil pahit di masa panen padi.

Pasalnya, harga gabah di tingkat petani terus mengalami penurunan di masa panen.

’’Sebelum Ramadan padahal masih Rp 6.500 per kilo, sekarang mau hari raya mlah turun Rp 5.300 per kilo,’’ ungkapnya.

Menurutnya, harga gabah yang anjlok saat ini membuat petani resah lantaran terancam merugi. Kondisi itu berbending terbalik dengan harga beras di pasaran yang masih melambung.

Sesuai pantuan pada sinergismart disperindag, meski trennya turun, untuk beras IR 64 medium rata-rata masih di atas HET, capai Rp 11.965 per kg dengan harga tertinggi Rp 14.500 per kg dan terendah Rp 10.900 per kg.

Begitu juga dengan IR 64 premium harganya rata-rata tembus Rp 14.243 per kg dengan tren turun.

’’Jadi harga gabah anjlok, namun harga beras masih mahal. Selain itu para petani juga di pusingkan untuk pengadaan pupuk masa tanam ke dua,’’ tegasnya.

Murahnya harga gabah kering giling di tingkat petani, membuatnya juga merugi. Kondisi itu diperparah dengan cuaca ekstrem belakangan ini yang berpengaruh pada kondisi padi yang roboh.

Termasuk munculnya hama wereng yang mulai menyerang. Benar saja, dengan luasan sawah 1,5 hektar, produktivitas padi yang dipanen hanya dapat 5 ton gabah.

PANEN: Petani di Desa Singowongi, Kecamatan Kutorejo memanen padi di tengah harganya yang berangsur turun, Jumat (29/3).
PANEN: Petani di Desa Singowongi, Kecamatan Kutorejo memanen padi di tengah harganya yang berangsur turun, Jumat (29/3).

’’Dalam masa panen ini, tidak maksimal dikarenakan banyak padi roboh yang di akibatkan intensitas hujan dan angin, selain itu juga hama wereng masih menghantui para petani,’’ tuturnya.

Jika dihitung nilai yang didapat tersebut tak sebanding dengan biaya tanam dan perawatan.

Selain naiknya biaya bajak sawah, juga butuh pengairan dan pupuk.  ’’Belum lagi harga tenaga kerja juga mahal, tapi harga jual rendah, harusnya minimal Rp 6.500 per kg, itu pun untungnya tidak banyak,’’ paparnya.

Mereka berharap agar pemerintah segera turun tangan dan membuat standar harga gabah lebih tinggi melalui harga pembelian pemerintah (HPP).

Kepala Pimpinan Cabang Bulog Surabaya Selatan Rusli mengatakan, hingga kini Bulog belum ada penugasan penyerapan gabah petani.

Hanya saja, pihaknya memastikan harga kering panen Rp 5.300 per kg itu sudah di atas HPP.

’’Kalau HPP gabah kering panen itu Rp 5.000 per kg sedangkan HPP gabah kering panen di tingkat penggilingan Rp 5.100 per kg, serta gabah kering giling (GKG) Rp 6.300 per kilogram,’’ paparnya. (ori/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
#panen raya #harga gabah #panen padi #gabah mojokerto #mojokerto