Delapan titik tanggul ini merupakan hasil pemetaan tim gabungan DPUPR Perakim dan Bappedalitbang Kota Mojokerto setelah banjir dua pekan lalu. Sebanyak 4.506 warga dari empat kelurahan di tiga kecamatan terdampak banjir akibat meluapnya sejumlah aliran sungai tersebut.
Sebagai langkah antisipasi banjir susulan, Pemkot Mojokerto segera mendata tanggul sungai yang rawan jebol. Hal ini dilakukan agar segera mendapat penanganan. ’’Untuk tanggul-tanggul yang kritis akibat pasca-banjir sudah didata bappeda dan akan dilaporkan ke BBWS Brantas,’’ kata Kepala DPUPR Perakim Kota Mojokerto, Muraji, dihubungi Minggu (24/3).
Kepala Bidang Perekonomian, Sumber Daya Alam, Infrastruktur, dan Kewilayahan Bappedalitbang Kota Mojokerto, Iswara Pakarman Dewangga, menjelaskan terdapat delapan tanggul yang terkategori kritis. Yakni lima titik di Sungai Sadar, dua titik di Sungai Brangkal, dan satu titik kritis di Sungai Cemporat.
Angga, sapaannya, menyatakan seluruh aliran sungai tersebut berada di bawah kewenangan BBWS Brantas. ’’Yang (Sungai) Brangkal sudah kami laporkan, dan minggu ini kita akan ke BBWS lagi untuk melaporkan yang Sadar dan Cemporat,’’ ujarnya dihubungi terpisah, Minggu (24/3).
Menurutnya, tim menemukan delapan titik tanggul tersebut dalam kondisi kritis karena tergerus air. Selain rawan jebol, plengsengan yang terongrong aliran sungai praktis mengancam rumah, jalan, dan jembatan. ’’Jadi kondisinya ambrol, plengsengannya longsor,’’ imbuh dia.
Kendati demikian, BBWS Brantas sejauh ini baru menjanjikan penanganan secara darurat di titik-titik tanggul yang kritis. Berdasarkan pelaporan awal, pengelola daerah aliran sungai itu belum memiliki anggaran untuk penanggulan permanen tahun ini. ’’Mungkin penanganan darurat dulu karena anggaran mereka belum siap, jadi mungkin tahun depan baru bisa dikerjakan rehabilitasi,’’ tandasnya. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah