Subandi, 54 tahun, staf mengatakan pengunjung dapat mengetahui sejarah peninggalan dari seluruh Jawa Timur yang disimpan di museum ini.
Meskipun begitu, peninggalan yang dari Trowulan paling mendominasi koleksi di museum ini.
’’Peninggalan cagar budaya yang disimpan di sini ada 3 kategori, termasuk dari kerajaan Kediri, Kerajaan Singosari, dan paling banyak dari kerajaan Mojopahit. Ini semua di dominasi dari berbagai bahan seperti batu, tanah liat, logam, keramik dan juga kayu,’’ sebutnya.
Pengunjung yang datang kebanyakan dari sekolah dan mahasiswa. Pengunjung yang masuk nantinya akan di bebankan tarif yang berbeda untuk anak-anak dan umum.
’’Pengunjung yang datang dari lokal dan turis, biasanya kebanyakan anak sekolah dan mahasiswa. Tiket masuk yang di bayar sebesar Rp 4 ribu untuk anak-anak dan Rp 7 ribu untuk SMA dan umum. Tiket itu dikelola oleh dinas pariwisata pemerintah daerah Mojokerto,’’ imbuhnya.
Setiap hari museum tidak pernah sepi pengunjung. Mulai anak-anak hingga orang luar negeri. Pengunjung bisa pula mendapatkan fasilitas pemandu yang bisa menjelaskan sejarah koleksi museum.
’’Jadi di sini ada 4 kategori pengunjung, yaitu pelajar, umum, dinas, dan pengunjung asing. Sehingga kami juga ada 7 orang guide dan 24 karyawan yang akan menyampaikan informasi,’’ paparnya.
Cagar budaya yang disimpan dalam museum tidak hanya ditemukan oleh arkeolog. Masyarakat juga bisa memasukkan barang ke museum dengan standar kelayakan yang ditetapkan pemerintah.
’’Kelayakan peninggalan yang dapat disimpan di sini berdasarkan nilai sejarah, pengetahuan, budaya, dan juga usia yang sudah mencapai 50 tahun. Kalau tidak ada nilai seperti itu, tidak bisa dijadikan benda zaman dahulu,’’ jelasnya. (Novita Ainiyyatuz Zakiyyah/fen)
Editor : Fendy Hermansyah