Dikatakan Kepala Desa Sugeng Mismandono, keberadaan Jembatan Desa Sugeng ini tak hanya membawa manfaat bagi masyarakat desanya.
Melainkan juga menjadi jalan alternatif yang dilewati banyak orang dari daerah lain. ’’Tentu dengan adanya jembatan yang diresmikan Ibu Bupati ini sangat berpengaruh,’’ katanya.
Di samping itu, munculnya jembatan penghubung antardesa yang memiliki panjang sekitar 27 meter dan lebar 6 meter ini turut memberikan kelancaran akses perekonomian masyarakat.
Baik bagi para petani yang mengangkut hasil panennya, juga bagi mereka yang bekerja di pabik.
’’Sebagian besar masyarakat Desa Sugeng merupakan pekerja pabrik di daerah Ngoro. Sehingga, dengan jembatan ini akses mereka lebih lancar dan aman,’’ sebut dia.
Dibangunnya jembatan Desa Sugeng ini, sambungnya, bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2023 yang disisihkan dari pembayaran lunas Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB P2) oleh masyarakat.
Sebagai wujud terima kasih kepada Pemkab Mojokerto, Desa Sugeng sendiri telah melunasi pembayaran pajak tahun 2024 sekaligus.
’’Dengan tertib membayar pajak, otomatis infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat desa bisa segera diakomodir oleh pemda,’’ tuturnya.
Selain dibangunnya jembatan penghubung, Desa Sugeng juga tengah memprioritaskan pelebaran jalan antardesa dan perbaikan jalan usaha tani (JUT).
Mismandono menjelaskan, pihaknya juga telah mengajukan proposal pelebaran jalan yang menghubungkan Desa Sugeng dan Desa Jatijejer. ’’Semoga juga bisa terealisasi, sehingga jalannya bisa diakses oleh banyak orang,’’ paparnya.
Sedang untuk JUT, masih ada sekitar 700 meter yang perlu disentuh perbaikan. Pihaknya sudah menyisihkan anggaran dari dana desa (DD) tahun ini untuk menggarap perbaikan tersebut. ’’Sudah kita anggarkan, insyaallah selesai tahun ini juga,’’ beber dia.
Terbaru, Desa Sugeng juga mulai merintis tempat pembuangan sampah (TPS) bagi masyarakat. Dengan memanfaatkan tanah kas desa (TKD) seluas 1 hektare, diharapkan TPS ini bisa menjadi upaya masyarakat agar tetap menjaga kebersihan lingkungan desa.
’’Kita juga mulai merintis agar bisa dijadikan TPS3R. Jadi, tidak hanya sekadar untuk pembuangan sampah, namun juga bisa menghasilkan nilai ekonomis kedepannya,’’ pungkas Mismandono. (oce/fen)
Editor : Fendy Hermansyah