Tradisi itu masih dilestarikan Pemdes Pandanarum, Kecamatan Pacet. Wilayah dengan dua dusun ini merayakan ruwat desa dengan meriah dan masih menjunjung nilai budaya.
Dipimpin Kades Pandanarum, Endik Sugianto, acara diawali dengan arak-arakan yang dibawa warga menuju Balai Desa Pandanarum, Kamis (7/3) malam.
Endik mengatakan, ruwat desa tahun ini mengangkat tema Bersahabat Dengan Alam, Jadikan Alam sebagai Pustaka.
’’Kegiatan ini lebih kurangnya bertujuan untuk berkirim doa dan mengenang jasa para leluhur yang telah babad alas Desa Pandanarum,’’ katanya.
Kegiatan ini juga untuk mengenang kemuliaan leluhur Desa Pandanarum atas banyaknya jasa dalam merintis desa yang telah ditempati masyarakat.
’’Kami sebagai pewaris Desa Pandanarum tidak patah semangat, tidak putus asa, tetap bersyukur pada Allah SWT,’’ ungkapnya.
Sampai saat ini, tambah dia, masyarakat Pandanarum dinilai masih memegang nilai hidup gotong royong, welas asih, menjaga kerukunan, serta bersahabat dengan alam.
’’Oleh karenanya, menjadikan alam sebagai pustaka kami, karena manusia itu khalifah di bumi, jadi kami sadar hanya manusialah pelaku perubahan,’’ papar dia.
Desa Pandanarum mampu menjadikan daerah sebagaimana warisan leluhur cikal bakal eksistensi NKRI di Mojokerto.
Sehingga, Mojokerto bisa tampil sebagai miniatur Indonesia, yaitu negara yang mengedepankan Bhinneka Tunggal Ika.
’’Keberagaman adalah anugerah ilahi. Namun, keberagaman menuju satu tujuan yakni menuju kedamaian. Masyarakatnya, maju, adil dan sejahtera,’’ pungkasnya.
Kegiatan ruwatan berlangsung khidmat saat Kyai Moch Choiri Asadulloh memberikan ceramah agama terkait rasa syukur nikmat ruwat desa.
Selepas itu, masyarakat berburu kue, buah, sayur, dan hasil bumi Pandanarum dari arak-arakan tersebut. (oce/fen)
Editor : Fendy Hermansyah