Meningkatnya kasus DBD itu seperti terjadi di Desa Kedungmaling, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Kemarin, Pemdes Kedungmaling bersama Puskesmas Sooko juga melakukan fogging usai sejumlah warga terjangkiti DBD.
’’Jadi dalam satu minggu terakhir warga kami yang terjangkit DBD banyak, ada enam orang,’’ ungkap Kades Kedungmaling, Edy Prabowo.
Enam warga itu tersebar di sejumlah RT. Meliputi, lingkungan RT 03, RW 02 sebanyak tiga orang, dan masing-masing satu orang di RT 06 dan 07, RW 03 serta di RT 19, RW 08. Menurutnya, fogging bakal dilanjutkan hari ini dengan menyasar RT 04 dan RT 05, RW 02 dan RT 01 dan RT 02, RW 01.
Hal itu sebagai langkah mengantisipasi meluasnya kasus DBD di desanya. ’’Selain fogging hal yang tidak kalah penting dan harus dilakukan masyarakat adalah pemberantasan nyamuk, baik di dalam maupun di luar rumah,’’ tambahnya.
Terpisah, Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Mojokerto dr Agus Dwi Cahyono mengatakan, tren penyakit DBD di bumi Majapahit dalam dua bulan terakhir cenderung meningkat.
Pihaknya mencatat ada 41 kasus. ’’Tren kasus DBD memang ada kenaikan,’’ ungkapnya.
Jika pada Januari ada 16 kasus, pada Februari melonjak menjadi 25 kasus. Sebagian besar penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti ini menyasar usia 0-15 tahun, yakni capai 28 kasus.
Sedangkan, untuk usia di atas 15 tahun sebanyak 13 kasus. ’’Dari tren kenaikan dua bulan ini, tidak ada yang sampai meninggal dunia,’’ tambahnya.
Sebaran kasus ini merata di beberapa kecamatan meliputi, Kecamatan Jatirejo, Puri, Trowulan, Bangsal,Dlanggu, Pungging, Ngoro, Jetis, Kemlagi, Mojoanyar, dan Sooko. Seperti yang terjadi di desa Kedungmaling, Sooko.
Menurutnya, faktor penyebab terjadinya kenaikan kasus ini memang banyak genangan air yang menjadi tempat berkembang biakan nyamuk Aedes aegypti. Hal itu seiring dengan intensitas hujan yang naik belakangan ini.
’’Sedangkan masyarakat kurang menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Makanya, kita mengajak masyarakat untuk melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan 3M plus,’’ tegasnya.
Selain menguras dan menyikat, menutup penampungan air, dan mendaur ulang barang bekas, masyarakat juga harus mencegah gigitan dan perkembangbiakan nyamuk.
Di antaranya, memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, menggunakan obat anti nyamuk, meletakkan pakaian bekas pakai ke dalam wadah tertutup, hingga menanam tanaman pengusir nyamuk.
’’Kami juga secara massif melakukan sosialisasi atau penyuluhan DBD pada masyarakat,’’ tegasnya. (ori/fen)
Editor : Fendy Hermansyah