Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Setahun, Produktivitas Padi di Kabupaten Mojokerto Tembus 315 Ribu Ton

Fendy Hermansyah • Sabtu, 2 Maret 2024 | 16:35 WIB

PENOPANG EKONOMI: Petani di Kabupaten Mojokerto sedang panen padi. Sejak zaman Majapahit, padi menjadi komoditas utama pertanian masyatakat.
PENOPANG EKONOMI: Petani di Kabupaten Mojokerto sedang panen padi. Sejak zaman Majapahit, padi menjadi komoditas utama pertanian masyatakat.
KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto - Produksi pangan komoditas padi di Kabupaten Mojokerto tembus 315.201 ton di sepanjang 2023. Paling tinggi ada di Kecamatan Pacet capai 34.623 ton.

Tak urung meski terjadi fluktuaktif harga beras di pasaran, pemda memastikan jika swasembada pangan daerah tergolong aman.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto Nurul Istiqomah menegaskan, sejauh ini produktivitas pertanian, utamanya padi tergolong aman.

Hal itu seiring dengan luas panen bersih yang terjadi tiap tahun masih cukup luas.

’’Sesuai data kami, luas panen bersih pada tahun 2023, capai 51.416 hektare,’’ ungkapnya.

Ia merinci, subround I 23.862 hektare, subround II 20.242 hektare, dan subround III 7.313 hektare. ’’Jadi, kalau kita berbicara swasembada pangan harusnya aman karena produktivitas padi kita surplus,’’ tambahnya.

Nurul mengungkapkan, pertanian di bumi Majapahit masih menghasilkan komoditas pangan melimpah.

Utamanya produktivitas padi masih tembus di angka 315.201,08 ton di 2023. Rinciannya, 152.937 ton pada subround I, 117.171,66 pada subround II, dan 45.092,09 pada subround III.

Paling tinggi produktivitasnya ada di Kecamatan Pacet capai 34.623 ton. Disusul, Kecamatan Pungging di angka 31.311 ton. Lalu, 28.948 ton ada di Kecamatan Kutorejo.

Menurutnya, tingginya  produktivitas padi di wilayah kerjanya dipengaruhi banyak faktor. Mulai dari penggunaan bibit unggul dan pemupukan seimbang. Tak kalah penting kesadaran petani menggunakan teknologi pertanian.

Di sisi lain infrastuktur pertanian yang apik juga jadi pendukung ketercapaian swasembada pangan daerah. Seperti halnya ketersediaan bendungan hingga irigasi pertanian.

’’Jadi, infrastruktur pertanian itu menjadi salah satu faktor penentu. Meskipun kemarau, petani tetap bisa produktif melakukan penanaman padi. Itu bukti pemerintah hadir dalam mewujudkan swasembada pangan daerah,’’ papar Nurul.

Begitu juga untuk komoditas jagung produktivitasnya juga tembus 249.434,96 ton dan untuk kedelai ada di angka 1.778,30 ton. (ori/fen)

Editor : Fendy Hermansyah