Untuk memastikan dan monitoring target tiap tahunnya, disperta selalu update melalui e-Report LTT (Luas Tambah Tanam).
Kepala Disperta Kabupaten Mojokerto Nurul Istiqomah, penerapan e-Report LTT ini sangat optimal untuk mengawal swasembada pangan di Kabupaten Mojokerto.
Sebab, melalui aplikasi ini, petugas yang tersebar di 18 kecamatan selalu melakukan update data pertanian setiap hari, khususnya tambah luas tanamnya.
’’Setiap hari, balai penyuluh pertanian itu melaporkan melalui aplikasi ini, setiap ada petani yang mulai melakukan penanaman data itu diinput ke e-Report LTT ini,’’ ungkapnya.
Pelaporan pada aplikasi ini tidak secara menyeluruh, melainkan dibatasi untuk komoditas padi jagung dan kedelai (pajale). Penginputan data pajale ini dimulai pukul 08.00 sampai 14.00.
Petugas BPP yang ada di 18 kecamatan ini akan keliling ke setiap desa untuk mendata para petani yang melakukan penanaman tiga komoditas tersebut.
’’Selain input luas tambah tanam, petugas BPP juga mendata petani yang melakukan panen. Jadi kita tau perkembangan produktivitas pertanian setiap harinya,’’ tegas Nurul.
Setelah dilaporkan, disperta bakal melakukan rekapitulasi untuk dilaporkan ke Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur.
Data-data pada tiap daerah ini bakal dipadukan dengan LTT dan produktivitas dari daerah lainnya.
’’Artinya swasembada pangan di Kabupaten Mojokerto juga dipantau provinsi. Secara periodik nanti dievaluasi. Tapi kita pastikan untuk di Mojokerto selalu memenuhi target, bahkan surplus,’’ paparnya.
Benar saja, pada 2023 lalu produktivitas komoditas padi di Kabupaten Mojokerto capai 315.201,08 ton.
Rinciannya, 152.937 ton pada subround I, 117.171,66 pada subround II, dan 45.092,09 pada subround III. Sedangkan untuk komoditas jagung produktivitasnya tembus 249.434,96 ton serta untuk kedelai ada di angka 1.778,30 ton. (ori/ron)
Editor : Fendy Hermansyah