Dari situ pula, tagline Mojoanyar Bersinar lahir. Bersinar, sesuai namanya, merupakan akronim dari Bersih, Rapi, Indah dan Asri. Semboyan ini terus digelorakan oleh Camat Mojoanyar Mokh. Malik.
Tak hanya di sektor kecamatan, tagline Bersinar selalu diselipkan ke dalam segala program kegiatan masyarakat.
’’Tidak hanya sekadar tagline, tapi ada aksi nyatanya. Ada program Desa Bersinar, Sekolah Bersinar, yang mana tujuannya memang untuk menumbuhkan kesadaran peduli lingkungan pada masyarakat,’’ katanya.
Alasan dia mengangkat slogan Bersinar ke segala lini tak lain menghapus stigma kawasan kumuh di wilayah Mojoanyar. Maklum, sebagai pintu masuk Kabupaten Mojokerto, Kecamatan Mojoanyar harus memiliki tampilan wilayah yang elok.
’’Dengan adanya penanaman mindset dan perilaku sadar kebersihan atau peduli lingkungan, otomatis Kecamatan Mojoanyar juga bisa berbenah,’’ beber mantan Camat Pacet periode 2018-2022 itu.
Di samping itu, program kebersihan lingkungan ini bertujuan mengatasi banjir langganan yang kerap melanda beberapa desa di Kecamatan Mojoanyar.
Malik mengaku, persoalan sampah kerap menjadi tantangan yang ada di lingkungan masyarakat.
’’Salah satunya seperti persoalan sampah popok yang dibuang ke Sungai Sadar. Alhamdulillah, dua tahun ini sudah bebas dari limbah seperti itu berkat komitmen masyarakat yang mulai sadar menjaga lingkungan,’’ imbuh dia.
Bukan tanpa dasar ia melandaskan tagline Bersinar ke berbagai program kegiatan. Malik menyatakan, kebersihan menjadi prioritas utama yang diemban berlandaskan Perda Kabupaten Mojokerto Nomor 1 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah.
’’Setelah ada perdanya, kita breakdown ke perdes. Sehingga, setiap pelaksanaan apapun tetap mengedepankan kebersihan dan peduli lingkungan,’’ paparnya.
Dalam penerapannya, Malik membuat terobosan berupa lomba antardesa untuk menjalankan program pengolahan sampah.
Agar lebih memacu motivasi pemdes, pihaknya juga menambah program lomba desa bersih.
Melalui program itu pula, setiap desa melakukan pemilahan sampah milik warganya melalui kerja sama dengan dinas terkait dan pabrik daur ulang sampah.
Limbah yang tak bisa didaur ulang diambil petugas DLH untuk dibuang ke TPA, sedang yang bernilai ekonomis dijual pabrik di sisi utara Desa Jabon.
’’Memang kesadaran itu harus dipacu dan dikawal terus agar masyarakat konsisten menerapkan ini (peduli lingkungan) supaya menjadi kebiasaan. Ada kebersihan, wilayah tata kelola bagus, nanti juga akhirnya bermuara pada kesejahteraan masyarakat juga,’’ tandasnya.
Dengan pengolahan sampah tingkat desa yang telah berjalan ini, pihaknya berharap potensi banjir bisa teratasi. Apalagi, banjir luapan ini kerapkali menggenangi desa-desa yang berada di sekitar aliran sungai saat musim penghujan.
’’Ini sebagai mitigasi banjir kami. Sebagaimana arahan Ibu Bupati Ikfina Fahmawati, Kecamatan Mojoanyar itu harus bebas banjir,’’ tandasnya. (oce/fen)
Editor : Fendy Hermansyah