Salah satunya dilakukan melalui sedekah bumi dengan diawali khotmil Quran, arakan gunungan hasil bumi dan ditutup dengan bersalawat.
Kepala Desa Kupang, Andridi, menegaskan, sedekah bumi ini menjadi kegiatan rutin yang digelar di Desa Kupang sejak dirinya menjabat.
Langkah ini bagian dari upaya pelestarian budaya di tengah masyarat.
’’Ini bagian dari upaya pemerintah Desa Kupang nguri-uri budaya, melestarikan budaya leluhur,’’ ungkapnya.
Bertemakan Menuju Masyarakat Desa Kupang Bersatu, Berbudaya dan Sejaterah, sedekah bumi ini juga menjadi ungkapan rasa syukur atas limpahan rizki yang diberikan Tuhan yang maha Esa.
Berlangsung dua hari, Jumat (16/2) dan Sabtu (17/2) sedekah bumi ini melibatkan seluruh warga yang tersebar di enam dusun.
Diawali dengan khotmil Qur’an yang digelar di pendopo kantor desa dan seluruh masjid pada tiap dusun. Dilanjut ziarah kubur kepada leluhur desa.
’’Ini, jadi ungkapan syukur, karena kita sudah diberikan kesehatan, hasil bumi yang melimpah, termasuk sumber air yang tidak pernah habis. Selain itu, juga kirim doa kepada sesepuh yang mbabat Desa Kupang,’’ tuturnya.
Kegiatan setahun sekali ini juga mendapat respon positif dari masyarakat. Hal itu dibuktikan dengan antusiasme mereka mengikuti serangkaian sedekah bumi yang digelar.
Meski zaman kian modern, faktanya masyarakat masih tetap menjunjung tinggi adat dan tradisi turun temurun yang diwariskan oleh pendahulu.
Tumpengan dari hasil bumi menjadikan sedekah bumi kian meriah. Tumpengan ini diarak masyarakat secara gotong royong dan beriringan ke balai desa setempat.
’’Sesuai tema yang kita usung, sedekah bumi ini menjadi komitmen kami menjadikan desa berbudaya dan sejahterah. Termasuk, mempererat silturrahmi dan persaudaraan antarwarga Desa Kupang,’’ paparnya.
Kegiatan ditutup dengan bersalawat. Andridi berharap, sedekah bumi ini menjadikan masyarakat Desa Kupang semakin guyub, rukun, tentram dan makmur. (ori/fen)
Editor : Fendy Hermansyah