Masyarakat mesti waspada lantaran hal ini dibarengi dengan tingginya potensi cuaca ekstrem di Bumi Majapahit.
Bahkan, cuaca ekstrem diprakirakan terjadi sewaktu-waktu hingga akhir Februari.
Ketua Tim Meteorologi BMKG Juanda Shanas Septy Prayuda menerangkan, para prakirawan mendapati sejumlah dinamika atmosfer yang terjadi langit Jawa Timur, termasuk Mojokerto Raya.
Sehingga potensi terajadinya cuaca ekstrem meningkat hingga beberapa waktu kedepan.
’’Dalam sepekan kedepan (12-18 Februari) berpeluang terjadi cuaca ekstrem. Terutama hujan lebat disertai petir dan angin kencang,’’ terangnya saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Mojokerto, Senin (12/2).
BMKG Juanda mencatat, ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya cuaca ekstrem.
Mulai dari terjadinya anomali suhu muka laut, stream line, outgoing longwave radiation (OLR) hingga madden-julian oscillation (MJO).
’’Adanya dinamika atmosfer ini berkontribusi dalam peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan maupun konvektif ,’’ urai Shanas.
Dikatakannya, potensi cuaca ekstrem tak hanya bisa terjadi sepekan kedepan saja. Melainkan, hingga bulan Februari ini berakhir.
Faktor utamanya, tak lain karena puncak musim hujan yang diprediksi berlangsung selama kuartal pertama tahun 2024 ini.
’’Selama bulan Februari masih berpeluang terjadi cuaca ekstrem mengingat masih puncak musim hujan,’’ sebutnya.
Tak pelak, warga bumi Majapahit diimbau meningkatkan kewaspadaan saat cuaca buruk terjadi. Utamanya, terhadap dampak bencana hidrometeorologi yang ditimbulkan.
Mulai dari banjir, angin kencang, pohon tumbang, hingga tanah longsor. Hal ini seiring dengan meningkatnya potensi terjadinya hujan lebat disertai angin kencang selama masa puncak musim hujan.
’’Tingginya potensi cuaca ekstrem ini membuat dampak bencana hidrometeorologi yang ditimbulkan juga meningkat,’’ tandas Shanas. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah