Pembangunan jalan itu dinilai sangat membantu petani desa setempat dalam meringankan beban biaya angkut hasil pasca panen. Kepala Desa Betro, Sutrikno mengatakan, anggaran dana desa (DD) senilai Rp 700 juta lebih telah digelontorkan untuk membangun JUT.
Rinciannya, 2021 yang mampu membangun 904 meter dengan menghabiskan anggaran sebesar Rp 500 juta. Kemudian berlanjut pada 2022 sepanjang 60 meter dengan nilai anggaran sebanyak Rp 41,7 juta. Dan 2023 sepanjang 250 meter dengan biaya sebesar Rp 158,2 juta.
’’Pembangunan jalan ini masih kami prioritaskan karena di Desa Betro masih banyak lahan sawah yang belum tercukupi infrastrukturnya,’’ ujarnya.
Sutrikno mengakui, selama ini para petani masih kesulitan dalam mendistribusikan hasil panennya.
Khususnya dalam hal pengangkutan padi dari sawah ke distributor yang menghabiskan biaya angkut terlalu besar. Hal ini lantaran akses dan infrastruktur jalan yang belum tersedia.
Dengan dibangunnya JUT, Sutrikno menilai beban biaya angkut kini sudah bisa diminimalisasi.
’’Dulu di Betro, belum semua jalan sawah dibangun. Sehingga petani banyak yang mengeluh tidak memiliki penghasilan karena terkuras oleh beban biaya angkut yang terlalu tinggi. Tapi setelah ada JUT selama tiga tahun, penghasilan mereka bisa bertambah,’’ tandasnya.
Meski memaksimalkan pembangunan fisik, namun Pemdes Betro juga tidak melupakan pemberdayaan masyarakat desa setempat. Salah satu jalannya dengan menggelar pekan budaya desa yang mengangkat kearifan lokal untuk dijadikan ajang wisata ala tempo dulu.
Dengan kegiatan tersebut, maka sektor ekonomi warga desa juga ikut terangkat.
’’Kami juga punya kegiatan Pasar Tempo Dulu dengan menawarkan jajanan, kuliner, wahana permainan ala tradisional yang digelar setiap tahun. Sekaligus untuk mengenalkan potensi masyarakat desa Betro ke publik,’’ pungkasnya. (far/ron)
Editor : Fendy Hermansyah