Panen ketiga komoditas buah melon premium ini sebagai bagian implementasi program ketahanan pangan desa.
Kepala Desa Japan Salim Udin mengatakan, program ketahanan pangan yang diinisiasi Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), cukup menghasilkan.
Dibuktikan dengan dibangunnya green house budi daya melon sejak Maret 2022 lalu.
’’Masyarakat memilih untuk mengembangkan budi daya hortikultura buah melon premium jenis Inthanon yang dikembangkan di tanah kas desa (TKD) yang berada di di Dusun Sugihan. Alhamdulillah, sudah panen dua kali dan tanam ketiga pada tahun ini,’’ katanya.
Salim mengaku, budi daya buah melon premium ini baru pertamakali dikembangkan. Yang mana sekaligus berorientasi mengantarkan Desa Japan sebagai desa wisata kampung melon pertama di Kabupaten Mojokerto.
Dia menambahkan, budi daya melon dipilih lantaran harga buah melon memiliki nilai ekonomis tinggi. Apalagi melon premium jenis Inthanon yang kini dikembangkan di greenhouse oleh BUMDes Adipati.
’’Selama ini buah premium yang mudah dijangkau adalah melon, iklim di Mojokerto juga mendukung sangat cocok untuk budi daya melon,’’ imbuhnya.
Petani dan pekerja di green house melon diberdayakan langsung dari warga Desa Japan. Keberadaan green house budi daya melon, lanjut Salim, dinilai mampu menggerakkan ekonomi.
Terlebih, saat masa panen banyak dikunjungi wisatawan yang ingin memetik buah melon.
’’Kita juga kerja sama dengan warga sekitar terkait dengan pengelolaan tempat parkir dan lainnya. Pembagian hasil dari budi daya melon ini, sebanyak 35 persen ke Pemdes, pengurus Bumdes 45 persen, sisanya untuk pengembangan,’’ jelas dia.
Tak hanya berupa buah, hasil panen melon akan diolah menjadi produk oleh-oleh seperti minuman jus buah yang dijual ke pasaran.
Dia berharap, pengembangan green house tersebut bisa bertambah banyak agar meningkatkan hasil panen.
Green house budi daya melon ini nantinya tidak hanya dikembangkan di lahan TKD, melainkan juga ke lingkungan warga hingga tingkat RT/RW.
’’Kita berharap ada beberapa green house yang akan nanti buat dan juga memberdayakan masyarakat untuk mengelolanya. Harapannya melon ini bisa jadi ikon Desa Japan,’’ pungkasnya.
Selain mengembangkan melon, green house di lahan berukuran 20 meter x 8 meter itu juga merawat budi daya ikan lele. Beberapa pengembangan lainnya juga berkutat di usaha penggemukan sapi ternak milik warga.
’’Semua pengembangan fokus pada ketahanan pangan. Otomatis, ekonomi juga jalan berkat dampak dari green house melon ini. Sehingga seluruh pengembangan ini harus tetap dijalankan secara produktif agar terus membawa dampak positif untuk masyarakat,’’ tandas Salim. (oce/fen)
Editor : Fendy Hermansyah