Tembakau menjadi komoditas utama pertanian Desa Banyulegi. Jumlah petaninya terus bertambah dari tahun ke tahun.
Kini, lahan tembakau di kampung di utara Sungai Brantas itu sudah tersebar di semua dusun.
Yakni Banyulegi, Ngarus, Balong, dan Galagah. ’’Sekarang ada sekitar 100 petani, naik 50 persen dari sebelumnya,’’ kata Kepala Desa Banyulegi Toni.
Berkembangnya pertanian tembakau seiring dengan potensi keberhasilan panen yang terus meningkat.
Toni menyebut musim panen tahun ini para petani bisa semringah karena hasilnya melimpah dan harga jual tembakau yang tinggi.
’’Alhamdulillah kesejahteraan petani meningkat,’’ imbuh dia.
Menurutnya, keberhasilan petani tak lepas dari kebijakan pro tembakau yang selama ini berlangsung untuk kelompok tani.
Seperti bantuan pupuk dari pemkab, BLT dari Bea Cukai, hingga yang terbaru yakni dukungan dari tengkulak luar daerah berupa mesin perajang. ’
’Mesin ini membuat jumlah produksi ikut naik karena lebih cepat prosesnya,’’ tandas Toni. Peningkatan hasil panen juga muncul setelah adanya kebijakan semua bagian tembakau terjual tanpa dipotong bagian tulang daun.
Toni menyatakan pihaknya terus berkomitmen meningkatkan kesejahteraan warga.
Di samping sektor pertanian, pemdes juga terus mengupayakan pengentasan berbagai permasalah. Salah satunya yakni banjir langganan dari Sungai Lamong.
Saat ini, menurut Toni, proses normalisasi telah dilakukan oleh BBWS Bengawan Solo sehingga potensi banjir luapan terantisipasi.
”Insyaallah musim penghujan nanti tidak ada banjir lagi,” harapnya. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah