Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Jajaki Bikin Kesepakatan Antar Perguruan Silat, Ini Penjelasan IPSI Kabupaten Mojokerto Soal Demo di Mapolres

Martda Vadetya • Kamis, 2 November 2023 | 15:25 WIB

DIDUDUKI: Kasatreskrim Polres Mojokerto AKP Imam Mujali menampung aspirasi massa kelompok silat dan meminta mereka untuk membubarkan diri dengan tertib.
DIDUDUKI: Kasatreskrim Polres Mojokerto AKP Imam Mujali menampung aspirasi massa kelompok silat dan meminta mereka untuk membubarkan diri dengan tertib.
KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Dua kali aksi konvoi perguruan silat yang menyasar Mapolres Mojokerto menjadi atensi berbagai pihak.

Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Mojokerto buka suara soal aksi yang berpotensi besar memicu perselisihan dan kericuhan tersebut.

Dalam waktu dekat, IPSI bakal mengumpulkan 17 perguruan silat se-Mojokerto untuk berembuk menemukan solusi dan kesepakatan bersama.

Ketua IPSI Mojokerto Samsul Muarifin menuturkan, dua kali aksi yang berimbas pada keamanan dan ketentraman masyarakat tersebut perlu segera ditentukan solusi.

Sehingga aksi serupa dan dampak yang ditimbulkan bagi masyarakat tak kembali terjadi di Mojokerto Raya.

’’Dalam waktu dekat. Mungkin sepekan kedepan kita akan kumpulkan 17 perguruan silat di Mojokerto,’’ terangnya.

Nantinya, para petinggi perguruan silat tingkat Mojokerto bakal diajak berembuk. Utamanya, untuk mengurai akar permasalahan hingga solusi yang bisa diterapkan seluruh kelompok silat yang ada.

Salah satunya, dengan tidak menggelar konvoi dan arak-arakan menggunakan atribut perguruan silat.

Baik berupa kaos, jaket hingga bendera bermuatan lambang perguruan silat.

Tujuannya tak lain, meminimalisir dampak yang ditimbulkan dari konvoi yang digelar perguruan silat tersebut.

’’Nanti kita ajukan saran dengan konsensus agar kalau ada aksi tidak memakai atribut perguruan silat. Karena atribut yang ditampilkan ini bisa memicu rasa arogansi dan kesalahpahaman di tengah masyarakat,’’ ungkap pria yang juga Kepala SMAN 3 Kota Mojokerto ini.

Konsep ini, lanjut Samsul, bisa diterapkan selama setahun atau dua tahun kedepan jika telah disepakati masing-masing perguruan silat.

Termasuk dengan sanksi berat yang telah disiapkan bagi perguruan yang melanggar.

’’Kalau melanggar kesepakatan bersama, ada sanksi bagi perguruan. Bisa dibekukan. Tidak boleh beraktivitas di dalam IPSI,’’ papar Samsul.

Soal konvoi yang digelar pada 27 dan 29 Oktober kemarin, menurutnya aksi tersebut tak seperti yang diharapkan masing-masing perguruan silat.

Lantaran aksi konvoi kerap dilakukan malam hari yang berpotensi menimbulkan perselisihan dan aksi anarkis di tengah masyarakat.

’’Sudah saya komunikasikan ke pengurus perguruannya. Konvoi malam hari itu bukan kemauan perguruan, bahkan mereka (petinggi) tidak tahu. Tetapi itu aksi dari kelompok atau geng pemudanya saja,’’ sebutnya. 

Sejumlah poin tersebut bakal dibahas lebih dalam oleh internal IPSI dalam pertemuan yang segera digelar.

’’Karena solusi dan kesepakatan ini kembali lagi untuk keamanan dan ketentraman masyarakat,’’ tukas Ketua IPSI.

Sebelumnya, ratusan anggota Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKSPI) Kera Sakti meluruk Mapolres Mojokerto, Minggu (29/10) malam.

Mereka mendesak kepolisian agar segera menangkap oknum penyerangan dan penjarahan anggotanya di Desa Seduri, Kecamatan Mojosari, Jumat (27/10) malam.

Saat itu pula, ratusan anggota perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) menggelar aksi konvoi ke Mapolres.

Mendesak mengusut tuntas penyerangan orang tak dikenal terhadap anggotanya di Kutorejo yang sedang latihan Minggu (22/10) dini hari. (vad/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
#demo #kabupaten #perguruan silat #mojokerto #Mapolres