Selain menghasilkan bahan pangan sehat, program ini sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia.
Program bernama manajemen tanaman sehat (MTS) tersebut dijalankan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jatim melalui UPT Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Tanaman Pangan dan Hortikultura.
Setiap tahun, satu desa di kabupaten/kota ditunjuk menjadi daerah penerapan.
Tahun ini, Desa Ngarjo di Kecamatan Mojoanyar yang terpilih sekaligus menjadi percontohan program MTS di Kabupaten Mojokerto.
Kami mendukung penuh adanya program MTS ini, ujar Kepala Desa Ngarjo, Iva Mayawati, kemarin (15/10).
Dengan didampingi tim Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman Disperta Kabupaten Mojokerto bersama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Mojoanyar, kelompok tani (poktan) setempat diajarkan merawat tanaman secara sehat melalui program MTS.
Pematang sawah seluas 25 hektare milik 60 petani anggota Poktan Sri Rejeki di Dusun Babatan ditanami padi tanpa sentuhan bahan kimia semenjak pembibitan.
Para petani merawat tanamannya menggunakan pupuk kandang dan berbagai pestisida organik.
Seperti fermentasi urine sapi, empon-empon, dan berbagai tanaman serta bakteri lain. Semua bahan tersebut diolah sendiri dengan biaya sangat murah.
Untuk mengusir hama, sawah juga ditanami bunga yang berfungsi sebagai refugia atau pengundang musuh alami hama.
Iva menyatakan, program yang sudah memasuki masa panen dengan dihadiri Gubernur Khofifah Indar Parawansa pada September lalu itu diharapkan dapat ditularkan ke seluruh wilayah desa, bahkan daerah lain.
Selain menghasilkan padi sehat minim bahan kimia, MTS juga sekaligus menjadi solusi mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang sering mengalami kelangkaan.
Harapannya program ini bisa memakmurkan masyarakat dan menghasilkan tanaman yang bagus.
Selain itu, ini juga sekaligus menjadi branding Desa Ngarjo sehingga makin dikenal, ungkap pemimpin desa dengan tiga dusun tersebut. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah