Tidak ada dampak bagi masyarakat, justru cuaca terasa kian panas karena kemarau panjang dan minimnya tutupan awan.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Juanda Teguh Tri Susanto menerangkan, kulminasi merupakan fenomena saat matahari berada tepat di posisi paling tinggi di langit.
Saat deklinasi, matahari sama dengan lintang pengamat atau disebut sebagai kulminasi utama. Saat itu, matahari tepat berada di atas kepala pengamat atau titik zenit.
’’Sehingga bayangan benda tegak akan tampak ’’menghilang’’ karena bertumpuk dengan benda itu sendiri,’’ ungkapnya.
Secara keseluruhan, hari tanpa bayangan di wilayah Jawa timur berlangsung sejak 11-14 Oktober. Untuk Mojokerto Raya, akan mengalami hari tanpa bayangan pada Kamis (12/10) sekitar pukul 11.16.
’’Hari tanpa bayangan ini tidak berlangsung lama. Hanya beberapa menit saja,’’ terang Teguh.
Teguh menyebut, hari tanpa bayangan tak lain merupakan fenomena tahunan. Bahkan, beberapa daerah bisa mengalami kulminasi dua kali dalam setahun. Namun, hal ini tak berlaku bagi wilayah Mojokerto.
’’Mengingat Indonesia berada di khatulistiwa. Waktunya tidak jauh dari saat matahari berada di khatulistiwa. Seperti Jakarta, terjadi hari tanpa bayangan pada 5 Maret dan 9 Oktober lalu,’’ bebernya.
Teguh memastikan, terjadinya hari tanpa bayangan tidak berdampak banyak bagi aktivitas sehari-hari masyarakat.
Namun begitu, pihaknya mengimbau masyarakat agar menggunakan pelindung kulit saat aktivitas luar runag agar tak terpapar pancaran sinar UV yang berlebih. Baik memakai topi, kacamata, jaket, payung, hingga gunakan sunblock anti UV.
’’Tidak ada dampak yang signifikan bagi masyarakat. Terlebih ini fenomena tahunan,’’ sebut Teguh.
Menurutnya, hari tanpa bayangan tak dibarengi dengan peningkatan suhu cuaca yang signifikan.
Justru, ada beberapa faktor lain yang membuat suhu cuaca belakangan ini terasa panas.
Pertama, saat ini musim kemarau. Kedua, minim tutupan awan sehingga tak ada penghalang sinar matahari ke bumi. Ketiga, posisi matahari saat ini di khatulistiwa dan menuju titik kulminasi utama.
Terakhir, kondisi topografi setiap wilayah. ’’Untuk harian Mojokerto rata-rata masih di angka 25-37 derajat celsius,’’ tutup Teguh. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah