Kepala Disbudporapar Kabupaten Mojokerto Norman Handhito mengatakan, Ruwat Agung Patirtaan Jolotundo ini menjadi wujud melestarikan kebudayaan yang menjadi warisan turun-temurun. Apalagi, air merupakan salah satu dari kunci kehidupan.
Sehingga perlu melestarikan dalam bentuk yang riil dengan menjaga kelestarian alam.
’’Kita memberikan penghormatan pada alam dan pada air itu sendiri. Itu yang kemudian menjadi upaya kami untuk melestarikan tradisi unduh-unduh patirtaan,’’ ungkapnya.
Menurutnya, ruwat agung patirtaan menjadi kebiasaan leluhur. Tradisi ini diawali dengan menggelar ritual pengambilan air di 33 titik sumber mata air di empat penjuru lereng Gunung Pawitra.
Sumber mata air ini kemudian dilakukan prosesi arak-arakan. Sumber mata air ini dicampurkan untuk kemudian didoakan secara tradisi dan lintas agama.
Pemangku adat Jolotundo Mukadi menjelaskan, cikal bakal tradisi ruwat agung patirtaan ini lahir dari Dusun Biting, Desa Seloliman yang berada di bawah Petirtaan Jolotundo.
Sebelum puncak acara, dilakukan unduh-unduh tirto dari sumber mata air yang letaknya di sisi timur, selatan, barat maupun utara lereng Gunung Penanggungan.
’’Puncak ruwat agung patirtaan ini ada manunggaling tirto atau pencampuran air dari 33 titik sumber yang ada di lereng Gunung Penanggungan dan kirab budaya. Makna filosofi dalam ruwat agung patirtaan juga sebagai wujud syukur masyarakat terkait melimpahnya sumber mata air di lereng Gunung Penanggungan,’’ tuturnya.
Dalam tradisi ini seluruh masyarakat dilibatkan. Tidak hanya dari Kabupaten Mojokerto, melainkan juga melibatkan pelestari adat budaya dari Bali dan Jawa Tengah.
Kedepannya, tradisi ini menjadi bagian dari adat dan budaya untuk menarik wisatawan berkunjung ke Kabupaten Mojokerto.
’’Kita akan melaksanakan festival-festival yang berbasis budaya dan utamanya adalah ruwat agung Patirtaan Jolotundo,’’ tandasnya. (ori/ron)
Editor : Fendy Hermansyah