Menggunakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), kegiatan ini untuk meningkatkan kualitas bahan baku rokok yang menjadi salah satu penyumbang terbesar pemasukan negara.
Pelatihan yang digelar di Hotel Aston ini dibuka oleh Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati. Sesuai data Disperta, potensi luas lahan untuk pertanian tembakau di Kabupaten Mojokerto capai 430 hektare yang terbagi di tiga kecamatan.
Terdiri dari, 30 hektare di Kecamatan Jetis, 100 hektare di Kecamatan Kemlagi, dan 300 hektare di Kecamatan Kemlagi.
Dari luas lahan tersebut, pada 2022 petani memanfaatkan lahan 161 hektare untuk bercocok tanam.
’’Total produktivitasnya capai 1.798 ton dengan wujud produksi daun basah,’’ ungkap Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto, Nurul Istiqomah.
Pelatihan yang diikuti seratus petani tembakau dari Kecamatan Dawarblandong, Jetis, dan Kemlagi serta sejumlah penyuluh pertanian ini dibiayai DBHCHT. Hal itu sesuai Peraturan Menteri Keuangan nomor 215/PMK.07/2021.
Ditegaskan, pemanfaatan DBHCHT di antaranya 50 persen untuk kesejahteraan masyarakat, 40 persen untuk kesehatan, 30 persen peningkatan kualitas bahan baku, peningkatan keterampilan kerja, dan pembinaan industri, 20 persen pemberian bantuan dan 10 persen untuk penegakan hukum.
’’Kegiatan ini menggunakan sumber anggaran DBHCHT, yang mana pemanfaatannya memang khusus. Salah satunya yakni untuk meningkatkan kualitas bahan baku, sehingga peserta kegiatan ini langsung dari petani tembakau,’’ bebernya.
Tak sekadar pelatihan dengan pamateri handal yang disiapkan. Ratusan petani juga diajak studi banding ke Kabupaten Lamongan. Selain menimbah ilmu kepada para petani yang dianggap lebih sukses, diketahui, hasil penen mereka juga sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan rokok ternama.
’’Jadi dengan studi banding dan pelatihan ini kami berharap petani tembakau di Kabupaten Mojokerto makin berkualitas. Termasuk, bisa mengembangkan produktivitas pertanian tembakau tiap tahunnya,’’ tandasnya.
Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati menyampaikan, tanaman tembakau merupakan salah satu tanaman yang rentan terhadap penyakit. Maka dari itu, pihaknya berharap, bisa menemukan bibit unggul tembakau yang cocok ditanam di masa anomali cuaca seperti saat ini.
’’Terkait tembakau yang mati karena kena hujan, ini bagaimana kita harus mengandalkan para ilmuwan kita agar menemukan jenis bibit tembakau yang cocok ditanam oleh petani di cuaca tak menentu seperti ini,’’ ungkapnya.
Dengan bibit yang bagus, tentunya kualitas tembakau yang dihasilkan petani bisa lebih baik dan tidak mudah mati karena beberapa hal. Selain itu, Bupati Ikfina juga berharap, melalui Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Mojokerto, semua kebutuhan petani tembakau bisa tercover dari DBHCHT.
’’Tolong melalui APTI, supaya nanti bisa mengakomodir kebutuhan para petani seperti Alsintan (Alat dan Mesin Pertanian), sehingga para petani bisa mendapatkan kemanfaatan dari DBHCHT,’’ tandasnya. (ori/fen)
Editor : Fendy Hermansyah