Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari menegaskan, TBM yang dibangun di kawasan Sungai Ngotok, Kecamatan Prajurit Kulon bakal dirampungkan dalam satu kali tahun anggaran. Mengingat, pembangunan destinasi wisata yang menjadi bagian dari proyek strategis nasional berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) 80/2019 ini diampu bersama oleh sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD). ”Karena di dalam DAK tematik integratif ini berasal dari enam kementerian yang mendukung pembangunan proyek strategis Taman Bahari Mojopahit,” ungkapnya.
Tak sekadar proyek fisik, skema pengelolaan juga dimatangkan pada tahun 2023 ini. Mengingat, pemkot menargetkan proyek yang disiapkan sebagai daya tarik wisata baru ini bisa langsung dibuka untuk pengunjung mulai tahun depan.
Ning Ita, sapaan akrab wali kota mengaku memetik pelajaran dari Pemandian Sekarsari yang hingga kini belum bisa dioperasionalkan lantaran masih proses pengelolaan melalui kerja sama pemanfaatan (KSP).
Meskipun, revitalisasi wisata kolam renang itu sedianya telah rampung 2022 lalu. ”Belajar dari pengalaman itu, TBM kita jalankan bersama. Tahun ini dinas PUPR mengerjakan infrastruktur fisiknya, sedangkan dinas pariwisata juga menyiapkan skema kelembagaannya,” ulasnya.
Sehingga, ujar wali kota, setelah seluruh proyek fisik wisata dan sarana prasarana pendukung rampung, TBM sudah bisa dibuka untuk umum di 2024. ”Harapan kami tahun depan infrastruktur selesai, kelembagaan selesai, anggaran untuk pengelolaan juga telah tersedia. Maka, TBM sudah bisa langsung tancap gas beroperasi,” sebutnya.
Dari total Rp 57 miliar DAK tematik integratif, sekitar Rp 22,5 miliar diplot untuk menyentuh pembangunan infrastruktur pariwisata. Dijelaskannya, TBM merupakan wisata susur sungai yang dengan 15 unit perahu yang didesain Majapahitan.
Sedangkan di bantaran sungai sepanjang kurang lebih 1,9 kilometer (km) terdapat wisata petik jeruk. Di dalam kompleks TBM juga dibangun amphitheater untuk pertunjukan hiburan terbuka, camping ground seluas 1 hektare, hingga taman budaya sebagai tempat literasi terkait Kerajaan Majapahit.
Di samping itu, juga dibangun monumen kapal atau Jung Majapahit sepanjang kurang lebih 42 meter. Ikon baru itu sekaligus difungsikan sebagai tempat kuliner dengan view Sungai Ngotok yang merupakan anak Sungai Brantas.
Ning Ita mengatakan, pemkot juga menyediakan lahan seluas 1 hektare yang akan dijadikan sebagai kawasan pluralisme. Di lokasi tersebut akan didirikan tempat ibadah bagi enam pemeluk agama. ”Kami serahkan kepada FKUB untuk proses pembangunannya,” tuturnya.
Di luar itu, DAK sebesar Rp 11 miliar juga dikucurkan untuk mendukung akses jalan menuju TBM. Yakni untuk revitalisasi akses dari sisi utara di ruas Jalan Raya Pulorejo dan dari sisi selatan di ruas Jalan Blooto yang masing-masing dialokasikan Rp 7,8 miliar dan Rp 3,3 miliar. Ditambah lagi dengan pembangunan jalan baru penghubung dari Balongcangkring sampai ke Jembatan Rejoto dari APBD dengan pagu Rp 7 miliar.
Sementara itu, sarana pendukung lainnya juga dijatah Rp 18 miliar. Anggaran DAK tersebut diperuntukkan untuk memfasilitasi UMKM dan ekonomi kreatif. Yakni dengan proyek pembangunan gedung pusat layanan usaha terpadu (PLUT) dan sentra industri kecil menengah (IKM) batik. ”Dari beberapa paket pekerjaan itu semuanya dilakukan proses tender dan dibangun pekerjaan fisiknya pada tahun 2023,” pungkas Ning Ita. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah