KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto — Terkendala pembebasan lahan, upaya penyelamatan Situs Kumitir masih belum menunjukkan progres signifikan. Apalagi, pembebasan lahan situs cagar budaya dengan luas sekitar 9 hektare ini tidak termasuk skala prioritas pembangunan Pemkab Mojokerto.
Pemda mengaku mengalami kendala sektor anggaran. Untuk itu, pemda pun memilih fokus perihal ekskavasi maupun pelengkapan sarana dan prasarana situs. "Kami terus berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim terkait (pembebasan lahan Situs Kumitir) ini. Kalau memang BPK ada anggaran, tentu kami dukung," ujar Kabid Kebudayaan Disbudporapar Kabupaten Mojokerto Riedy Prastowo.
Namun begitu, pemda masih belum bisa berbuat banyak setelah rencana pembebasan lahan yang dilakukan BPK Wilayah XI Jatim bersama warga masih belum menemukan harga yang tepat. Sebab, pemkab terkendala beberapa hal. Khususnya, ketersediaan anggaran. "Pembebasan lahan situs bukan prioritas kami. Apalagi anggarannya besar, yang bisa untuk itu saja bisa mengabiskan lebih dari Rp 40 miliar," bebernya.
Diterangkannya, hasil rapat koordinasi bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Mojokerto beberapa waktu lalu, pemkab belum bisa banyak mengucurkan dana untuk cagar budaya di 18 kecamatan. "Prioritas yang dimaksud ini sesuai kebutuhan masyarakat. Seperti sarana dan prasarana, pendidikan, ataupun kesehatan," jelasnya.
Bukan berarti tidak diatensi, lanjut Riedy, upaya pelestarian cagar budaya yang dilakukan pemkab menyesuaikan kemampuan keuangan daerah. Di antaranya dengan mempersiapkan dana ekskavasi lanjutan maupun pembangunan insfrastruktur jalan menuju situs. Salah satunya, pavingisasi jalan desa menuju Situs Kumitir yang beberapa waktu lalu diresmikan langsung oleh Bupati.
Selama ini, pemkab belum pernah ada ploting anggaran untuk pembebasan lahan situs. "Justru (pembebasan lahan situs) itu dilakukan BPK Wilayah XI Jatim yang bekerja sama dengan kita di daerah," terang Riedy. Hal itu sudah diterapkan di sejumlah situs cagar budaya di Kabupaten Mojokerto. Seperti di Candi Bajangratu maupun Candi Tikus di Trowulan yang kini menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya di Bumi Majapahit.
Tahun ini, pemkab sudah menyiapkan anggaran untuk ekskavasi lanjutan untuk beberapa situs. Di antaranya Situs Bhre Kahuripan (Desa Klinterejo-Sooko) maupun pengembangan kajian Situs Sumur Upas (Desa Sentonorejo-Trowulan). "Sudah disiapkan anggaran untuk ekskavasi tahun ini, di antaranya dua situs tersebut. Untuk pelaksanaannya, terus kami koordinasikan dengan BPK Wilayah XI Jatim," tukasnya. (vad/fen) Editor : Fendy Hermansyah