Dalam drama itu, ratusan umat Kristiani memulai berjalan dari Dusun Sidobecik menuju gereja di Desa Pulorejo sejauh satu kilometer. Mereka mengikuti prosesi Jalan Salib dengan mengenakan busana khas Jawa. Bahkan, prajurit yang menyiksa Yesus yang memanggul salib menggunakan pakaian khas wayang orang.
Pendeta setempat Galih Fendi Christianto mengatakan, drama kolosal jalan salib tersebut sebagai refleksi kesengsaraan Yesus saat dihukum dan memanggul kayu salib menuju bukit Galgota. Ratusan jemaat terlihat menitikkan air mata saat mengamati adegan demi adegan peristiwa sakral itu. "Drama ini refleksi kesengsaraan Yesus," ujar dia.
Pihaknya mengatakan, baik prajurit kerajaan hingga jemaat menggunakan pakaian khas Jawa bukannya tanpa sebab. Itu sebagai bukti identitas jemaat yang merupakan orang Jawa. "Kami memakai busana Jawa itu karena kami orang Kristen ada di Jawa, jadi kami tidak menghilangkan kami orang Jawa," ungkap Galih.
Pihaknya menjelaskan, dipilihnya pakaian khas suku Jawa itu tidak karena jemaat dari suku Jawa saja. Juga, lantaran itu sebagai refleksi pakaian yang ala kadarnya atau busana yang dipakai dalam sehari-hari. "Pakaian khas Jawa ini memang seperti ini. Jadi tidak dibuat-buat, sehingga pakaian keseharian yang dipakai. Ini seperti zaman dahulu saat Yesus disalib yang memakai pakaian saat itu. Saat ini, kami memakai pakaian yang sesuai di Bumi Majapahit," ujarnya. (fan) Editor : Fendy Hermansyah