Dinkes terus memacu 27 puskesmas untuk berinovasi guna mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Seperti yang dilakukan UPT Puskesmas Sooko dengan program inovasi MAMA MITA dalam rangka program percepatan penurunan stunting.
Kepala UPT Puskesmas Sooko dr Dadang Hendryanto mengungkapkan, terobosan MAMI MITA dilaksanakan petugas gizi dengan melibatkan masyarakat dan kader kesehatan. Yakni dengan memberikan edukasi sekaligus pemantauan terkait asupan gizi seimbang, pola asuh, serta sanitasi lingkungan tempat tinggal. ”Karena pencegahan stunting harus dilakukan sejak 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), terutama untuk ibu hamil,” terangnya.
Secara umum, MAMI MITA bertujuan untuk meningkatkan status gizi dan kesehatan masyarakat. Khususnya, meningkatkan status gizi bumil dan balita melalui penanggulangan masalah gizi secara rutin dan mandiri.
Karena itu, inovasi program MAMI MITA diprioritaskan untuk menyasar bumil kekurangan energi kronis (KEK) maupun orang tua yang memiliki balita dengan status gizi kurang berdasarkan Z-score.
Dalam pelaksanaannya, terang Dadang, pemantauan konsumsi makanan bumil dan balita dilakukan melalui grup WhatsApp (WA) per desa. Setiap kader akan menyerahkan nama-nama ibu hamil KEK dan balita dengan kriteria gizi kurang, gizi buruk, dan balita pendek atau sangat pendek. ”Kemudian setiap bidan desa membuat grup WA dengan anggota kader, ibu orang tua dari balita dengan gangguan gizi di wilayah desanya masing-masing,” urainya.
Setiap hari, bumil KEK dan orang tua balita dengan gangguan gizi mengunggah foto menu makanan harian sekaligus kudapan. Sementara kader, bidan, dan pelaksana gizi memantau apakah makanan yang dikonsumsi sudah sesuai dengan kebutuhan gizi harian. ”Selain untuk memantau konsumsi makan bumil dan balita, grup WhatsApp juga berfungsi untuk berbagi resep kreasi makanan bumil ataupun makanan pendamping air susu ibu (MP ASI),” papar dia.
Dadang menambahkan, pemantauan juga dibantu dengan Buku Harian Piringku untuk memantau menu makanan dari ibu balita yang stunting secara manual. Di samping itu, melalui program MAMI MITA juga diadakan kegiatan pertemuan demo memasak menu gizi seimbang. Petugas Puskesmas Sooko akan berkeliling untuk mengadakan cooking class di setiap desa se-Kecamatan Sooko.
Setiap satu minggu dilakukan 2 kali monitoring dan pemantauan menu gizi oleh tenaga kesehatan desa dan kader. Kunjungan tim antenatal care (ANC) terpadu juga melakukan jemput bola ke rumah bumil KEK. ”Monitoring dan evaluasi dilaksanakan dalam bulan timbang yang diadakan setiap bulan,” terang Dadang.
Sebagai tindak lanjut, UPT Puskesmas Sooko juga berkoordinasi dengan penanggung jawab program dan stakeholder terkait dalam memberikan multivitamin maupun pemberian makanan tambahan (PMT) bagi bumil KEK dan balita kurang gizi. ”Dengan adanya inovasi MAMI MITA harapannya masalah gizi di wilayah Kecamatan Sooko bisa cepat teratasi. Terutama masalah stunting dan ibu hamil KEK,” tandasnya.
Sementara itu, program dan inovasi Pemkab Mojokerto sukses menurunkan jumlah angka stunting pada 2022. Berdasarkan hasil survei Studi Status Gizi Indonesia (SSGI), angka stunting di Kabupaten Mojokerto turun ke angka 11,6 persen dari sebelumnya 27,4 persen di tahun 2021. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah