Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Rest Area Gunung Gedangan Kota Mojokerto Rp 7,5 Miliar Mati Suri

Fendy Hermansyah • Kamis, 19 Januari 2023 | 18:02 WIB
SEPI : Kondisi Rest Area Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari, yang diresmikan Juni 2021 mati suri. Hingga kini proyek yang menelan Rp 7,5 miliar itu belum mampu mendongkrak ekonomi warga. (Khudori Aliandu/JPRM)
SEPI : Kondisi Rest Area Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari, yang diresmikan Juni 2021 mati suri. Hingga kini proyek yang menelan Rp 7,5 miliar itu belum mampu mendongkrak ekonomi warga. (Khudori Aliandu/JPRM)
Gagal Jadi Tempat Relokasi Pedagang Buah

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Proyek Rest Area Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto yang menelan anggaran total Rp 7,5 miliar mangkrak. Bangunan di atas lahan seluas 6.800 meter yang sedianya untuk sentra kuliner ini mati suri tak ada aktivitas perdagangan.

Pantauan di lapangan, sebanyak 53 unit stand kondisinya memprihatinkan. Tak ada satu pun lapak yang buka. Sesuai informasi di lokasi, kondisi ini terjadi hampir setiap hari. ’’Setiap hari ya sepi seperti ini, ramai kalau ada event, pameran UMKM atau acara apa gitu saja,’’ ungkap GY, salah satu warga.

Selain sepi pembeli, rest area yang diresmikan pada Juni 2021 ini sejauh ini memang belum mampu menjadi daya tarik masyarakat untuk datang. Padahal, pasar yang dibangun menelan anggaran Rp 7,5 miliar bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dan APBD Kota Mojokerto ini diharapkan mampu mendongkrak perekonomian baru bagi warga kota. Rinciannya, masing-masing Rp 2,3 miliar 2019 untuk pengurukan lahan dan Rp 1,4 miliar dengan sasaran pembangunan fisik gedung, kios, dan kamar mandi.

Sedangkan, untuk pembangunan tahap II, pada 2020 pemkot mengguyur Rp 2,7 miliar. Yakni, fokus pada foodcourt terbuka, taman dan tempat parkir yang representatif. Terakhir untuk melengkapi sarana prasarana, pada 2022 kembali diguyur Rp 1,1 miliar untuk pembangunan masjid. ’’Di atas hanya ada pijat tuna netra. Itu saja yang buka setiap hari. Kalau kios-kios kuliner ya tutup karena memang sepi. Tidak ada pembeli,’’ bebernya.

Pun demikian dengan puluhan stand yang disiapkan untuk relokasi pedagang buah dari Pasar Tanjung Anyar juga kosong mlompong. Alhasil, relokasi pasar yang dilakukan Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopukmperindag) Kota Mojokerto akhir tahun lalu gagal terealiasi. Stand yang sudah disekat tak terpakai. ’’Jangankan untuk ditempati, bedak pedagang tidak pernah sampai ditaruh sini. Mungkin tidak mau karena sepi pembeli. Sementara, buah kan juga mudah busuk,’’ bebernya.

Dikonfirmasi terpisah, Kelapa Diskopukmperindag Kota Mojokerto Ani Wijaya mengaku, jika para pedagang buah di Pasar Tanjung Anyar tidak mau direlokasi di Rest Area Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari. ’’Jadi kita siapkan di dalam Pasar Tanjung Anyar, ada juga yang menyewa sendiri di luar,’’ ungkapnya.

Sebagai penanggung jawab, diskopukmperindag juga sudah menyiapkan di rest area. Bahkan, di lokasi penyekatan sudah dilakukan sebagai pembatas pada tiap penjual. ’’Sudah saya siapakan di rest area, sudah saya sekat tapi tidak ada yang mau di situ. Yang penting kan kita sudah sediakan, ada yang mau, ada yang nyari sendiri,’’ paparnya. (ori/ron)

Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #Majapahit #resta area #Mojopahit #gunung gedangan #kerajaan majapahit #proyek #mati suri #Kota Mojokerto #mojokerto #soekarno #trowulan #onde-onde