Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

DAS Watudakon Erosi, Kikis Lahan Pertanian Warga Jetis Mojokerto

Fendy Hermansyah • Jumat, 13 Januari 2023 | 17:12 WIB
MERUGI: Lahan pertanian milik warga Dusun Sonosari, Desa Canggu, Kecamatan Jetis berubah jadi aliran sungai. (dok JPRM)
MERUGI: Lahan pertanian milik warga Dusun Sonosari, Desa Canggu, Kecamatan Jetis berubah jadi aliran sungai. (dok JPRM)
Dua Hektar Area Palawija Amblas

JETIS, Jawa Pos Radar Mojokerto - Sejumlah petani di Dusun Sonosari, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto dibuat merugi karena lahan seluas dua hektar milik mereka tak bisa ditanami akibat terikikis sungai. Selain belum ada solusi pemerintah, jika dibiarkan longsoran itu dipastikan kian meluas.

Suratman, salah satu warga mengatakan, sudah beberapa tahun ini dirinya tak bisa lagi bercocok tanam di lahan miliknya yang berdempetan dengan Sungai Watudakon. Lahan yang kerap ditanami jagung itu kini sudah berubah menjadi aliran sungai yang bermuara ke kali Mas. ’’Dulu sering kita tanami palawija. Sekarang tidak bisa lagi karena lahannya tergerus air sungai,’’ ungkapnya.

Tak sekadar tergerus, lahan seluas dua hektar milik sejumlah para petani di desanya itu juga berubah menjadi aliran sungai. Tiap hujan deras, derasnya arus air terus membuat lahan pertanian di sisi kanan sungai Watudakon terkikis dan alami longsor. ’’Awalnya memang satu dua meter, lama-lama sekarang menjadi sekitar dua hektar lahan pertanian berubah menjadi aliran sungai,’’ bebernya.

Warga pun khawatir jika tidak ada penanganan dari pemerintah, luasan lahan pertanian yang terkikis milik warga itu kian melebar. Bahkan rawan sampai ke pekarangan dan rumah warga. Menurutnya, beberapa kali sudah dilaporkan ke pihak berwenang, baik pemerintah daerah atau pun pengairan. Sayangnya hingga kini belum ada tanggapan dan solusi. ’’Sementara kami tiap tahun tetap harus bayar pajak. Sedangkan, lahan kami sudah tidak bisa dimanfaatkan. Tidak ada penghasilan, tapi pengeluaran pasti,’’ sesalnya.

Terpisah, Kades Canggu Auda Fardian, menegaskan, membenarkan persoalan tersebut. Terakhir, pemdes kembali berkirim surat ke DPRD Kabupaten Mojokerto untuk mengurai polemik tersebut. Salah satunya agar dilakukan penanggulan agar longsoran tidak kian lebar. ’’Petani mintanya aliran sungai dikembalikan seperti awalnya, dan lahan mereka kembali bisa diselamatkan untuk bisa ditanami,’’ ungkapnya.

Menurutnya, sudah beberapa kali melayangkan pengaduan ke instansi terkait, namun hingga kini tidak pernah ditanggapi. ’’Lumayan luas lo lahannya, sekitar dua hektar. Kalau ini tidak ada penanganan kasihan petani. Setidaknya ada ganti rugi atau solusi seperti apa gitu. Sehingga petani juga tidak dirugikan,’’ paparnya.

Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Mojokerto, Pitung Hariyono, menegaskan, dalam waktu dekat surat yang masuk ke dewan itu bakal ditindak lanjuti. ’’Betul, surat sudah masuk. Kami sudah jadwalkan untuk audiensi. Paling cepat minggu depan,’’ ungkapnya.

Tak sekedar itu, pihaknya juga akan turun ke lapangan untuk mengetahui kondisi sebenarnya lahan yang tergerus sungai tersebut. ’’Sidak ke lokasi itu nanti sebagai modal kami mengeluarkan rekomendasi agar ditindak lanjuti pihak berwenang. Kasihan petani kalau memang benar itu lahan miliknya yang dibuktikan sertifikat,’’ paparnya. (ori/fen)
Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #Majapahit #pertanian #Mojopahit #kerajaan majapahit #jetis #Kota Mojokerto #mojokerto #erosi #lahan #soekarno #trowulan #onde-onde #das watudakon