Kain goni seringkali dimanfaatkan sebagai karung untuk menyimpan biji-bijian, beras, maupun hasil panen lainnya. Namun, kain dari bahan serat rosela tersebut bisa dimanfaatkan sebagai kerajinan tas yang unik dan menarik.
INDAH OCEANANDA, Puri, Jawa Pos Radar Mojokerto
Di tangan Endang Triwahyuningsih, kain goni bisa disulapnya menjadi kerajinan tas. Baik tas ransel, handbag, atau tote bag. Usaha tas berbahan kain goni ini sudah ditekuninya sejak 2019 lalu. Kebetulan, wanita akrab disapa Endang ini memang memiliki hobi menjahit. ”Sesudah kerja di pabrik, memilih meneruskan hobi menjahit. Memang dari kecil suka menjahit, dulu juga sering buat baju sendiri,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, Dusun Genengan, Desa Banjaragung, Kecamatan Puri.
Ibu dua anak ini mengaku, awalnya ia hanya menjahit tas dari bahan kain blancu dan perca. Model tasnya yakni tote bag dengan dihiasi lukisan tangan. Tas buatannya itu dipasarkan ke rekan-rekan terdekatnya.
Seiring berjalannya waktu, tas berbahan kain blancu dan perca sudah menjamur di pasaran. Karena ingin berinovasi, Endang pun mulai menjajal berkreasi menciptakan tas dari bahan kain goni. ”Memang sulit untuk proses menjahitnya. Karena tidak sehalus kain blancu atau perca. Jadi harus ekstra dan makan waktu agak lama untuk membuat satu tas,” bebernya. Endang menyebut, pengerjaan dua tas bisa memakan waktu satu minggu.
Meski sulit, namun tas berbahan goni menjadi buruan banyak kalangan. Mayoritas guru dan pelajar di Mojokerto mulai memesan produknya. Karena, tas buatan Endang ini memiliki ciri yang khas. Yakni, pelanggan bisa memesan tas berbahan kain goni sesuai selera. ”Kadang ada yang mau dipadupadankan dengan motif batik atau jins. Ada juga yang pengennya pakai lukisan. Jadi tas satu pelanggan dengan yang lainnya pasti beda,” jelas dia.
Wanita 36 tahun ini mengungkapkan, usahanya kian berkembang setelah dipasarkan dari mulut ke mulut oleh teman dekatnya. Bahkan, tas buatannya juga sering dikirim hingga ke luar daerah. Seperti Bali dan Jakarta. ”Pas 2021 itu, pesanan semakin banyak. Bahkan pernah sebulan sampai 50 permintaan. Terpaksa saya tolak karena saya cuma mengerjakan sendiri. Untuk lukisan dibantu sama suami dan anak yang memang bisa gambar,” terang dia.
Untuk produk tas goni, Endang memang sengaja menyerahkan desain sesuai permintaan pelanggan. Selain memberikan ciri khas, dia ingin melibatkan pelanggan dalam proses pembuatan tas yang akan dikenakan mereka. ”Kita hanya menyediakan model tas saja. Untuk desainnya biar pelanggan yang bebas menentukan, kita yang buat,” ulasnya.
Untuk satu tas, Endang mematok harga jual mulai dari Rp 75 ribu-150 ribu. Harga itu dilihat dari ukuran dan tingkat kerumitan desain tas tersebut. Untuk bahan baku kain goni, ibu dua anak ini biasanya memasok kiriman dari pabrik di Yogyakarta. ”Itu dikirim online, karena juga nyarinya susah. Nggak semua kota ada yang punya kain goni, termasuk di Mojokerto sendiri,” bebernya.
Ke depan, Endang berharap masih tetap melanjutkan usaha pembuatan tas berbahan karung goni tersebut. Di samping itu, ia juga bakal mengikuti pameran kerajinan untuk lebih memasarkan produknya agar lebih dikenal banyak kalangan. ”Sementara 70 persen pemasarannya kan masih di lokal Mojokerto, jadi harus nambah jaringan lagi biar produk bisa terpasarkan lebih luas. Tentunya juga tambah tenaga yang mengerjakan,” tandasnya. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah