Seperti yang dialami Lukman, salah seorang pedagang jagung di Pasar Raya Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Diakuinya, momen pergantian tahun kali ini membawa berkah tersendiri para pedagang jagung. Sebab, penjualan jagung di pengujung tahun meningkat berkali-kali lipat ketimbang hari biasa. Bahkan, mendekati malam tahun baru, ia mampu menjual 50-100 kg jagung dalam sehari.
’’Alhamdulillah penjualannya lumintu (mengalir). Sehari bisa habis antara 50-100 kg,’’ ungkapnya sembari meladeni pembeli yang terus silih berganti. Praktis, omzet penjualannya pun meningkat berkali-kali lipat. Di lapak sederhananya, warga Kelurahan/Kecamatan Mojosari itu menjual jagung secara ecer.
Per buah, jagung biasa dibanderol Rp 2 ribu sedangkan jagung manis dihargai Rp 3 ribu. Oleh Lukman, jagung-jagung yang dijualnya sengaja tanpa dikupas. Tak lain guna menjaga kesegaran jagung hingga di bakar saat malam tahun baru. ’’Ada juga jagung manis yang sudah dikupas, harganya Rp 6 ribu isi dua. Tapi tetap, yang paling banyak dicari ya yang belum dikupas ini,’’ terangnya.
Menurutnya, harga jual jagung kali ini tidak ada kenaikan yang signifikan. Justru permintaan jagung di pasaran yang terus meningkat mendekati malam tahun baru. ’’Kalau harga naik enggak ya. Kalau seperti ini (mendekati tahun baru) malah banyak yang cari buat bakar-bakar,’’ tandas Lukman.
Hal senada dialami Yuliani, pedagang jagung lainnya. Diakuinya, jagung jadi komoditas yang banyak diminati pasar saat momen pergantian tahun ini. Praktis penjualannya pun turut terkerek naik. ’’Kalau dirata-rata, sehari bisa sampai 30 kg. Kalau hari biasa ya jauh, paling mentok mungkin sekitar 5 kg saja,’’ sebutnya.
Sementara itu, Nikmatus Sholekhah, 38, warga Desa Awang-Awang, Kecamatan Mojosari, mengaku lebih memilih menghabiskan malam tahun baru dengan membakar jagung bersama keluarga di rumah ketimbang berwisata.
Menurutnya, aktivitas sederhana yang dilakukan di rumah itu punya dampak positif. Yakni membangun kebersamaan alias bonding antar sesama anggota keluarga. Tak pelak, hal tersebut sudah dilakukan sejak dua tahun terakhir. ’’Ya sejak pandemi Covid-19 itu, kan dulu susah mau keluar buat tahun baruan. Jadi akhirnya kebiasaan bakar-bakar di rumah. Nggak cuma jagung saja, biasanya sama frozen food juga. Ada baiknya daripada keluar atau ke wisata. Malah kena macet di jalan terus pengeluaran juga lebih banyak juga kan,’’ sebutnya. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah