Kepala UPT Tahura R Soerjo Ahmad Wahyudi menjelaskan, penutupan jalur pendakian mempertimbangkan potensi cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini. Bahkan, pemberlakukan penutupan dilakukan hingga waktu yang belum ditentukan. ”Penutupan ini sebenarnya perpanjangan sejak tiga bulan (Oktober) lalu. Di mana kami mempertimbangkan potensi terjadinya cuaca ekstrem berdasarkan prakiraan BMKG Juanda. Ini kami tutup sampai waktu yang belum ditentukan,” sebutnya, kemarin.
Praktis, para pecinta alam pun terancam tidak bisa menikmati malam pergantian tahun di kedua puncak gunung tersebut.Penutupan dua gunung yang populer dengan jalur pendakiannya tersebut bukan tanpa alasan. Hal tersebut dilakukan guna mengantisipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan saat pendaki berada di puncak. Mulai dari ancaman angin kencang, pohon tumbang, sambaran petir, maupun longsor dan banjir bandang. ”Selain untuk keselamatan para pendaki sendiri, penutupan sementara ini juga sebagai pemulihan ekosistem di kawasan gunung tersebut,” ujarnya.
Hal serupa tidak berlaku bagi Gunung Pundak (Pacet) dan Bukit Watu Jengger (Jatirejo). Jalur pendakian di dua destinasi tersebut masih terbuka bagi para pecinta. Alasannya, pendakian di kedua spot tersebut relatif rendah ketimbang di Gunung Arjono dan Welirang. ”Karena di Gunung Pundak dan Watu Jengger ini terkategori jalur pendakian pendek. Sehingga, kalau sewaktu-waktu ditutup karena cuaca buruk, pendaki bisa segera keluar (dievakuasi). Kalau di Arjuno-Welirang, butuh waktu panjang,” paparnya.
Sementara itu, Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Juanda Teguh Tri Susanto menjelaskan, hingga pekan depan wilayah Mojokerto bakal dibayangi cuaca ekstrem. Sebab, wilayah Jawa Timur mengalami masa puncak musim hujan di bulan Desember ini. ”Kondisi dinamika atmosfer juga masih signifikan. Hingga mengakibatkan peningkatan potensi cuaca ekstrem yang kami prakirakan terjadi sejak 22-28 Desember mendatang,” bebernya.
Tidak menutup kemungkinan, potensi cuaca buruk tersebut bakal diperpanjang. Menyusul adanya sejumlah indikasi dinamika atmosfer hasil analisa BMKG. Faktornya, meningkatnya curah hujan akibat La Nina dalam level sedang selama Desember ini. Yang dibarengi dengan adanya pola pertemuan angin yang bisa meningkatkan aktivitas konvektif dan pertumbuhan awan hujan. Aktifnya fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang Equatorial Rossby. Hingga Peningkatan suhu permukaan laut dengan anomali antara +0,5 s/d +2 derajat celsius yang mengakibatkan peningkatan suplai uap air di atmosfer.
Sejumlah faktor tersebut memicu potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, angin kencang, puting beliung, banjir bandang, longsor, hingga hujan es. ”Kami mengimbau agar masyarakat selalu waspada terhadap potensi dan dampak bencana yang bisa terjadi sewaktu-waktu,” tandas Teguh. (vad/ron)
Editor : Fendy Hermansyah